Loading

Ketik untuk mencari

Iran

47 Tahun Rivalitas Washington–Teheran: Sepuluh Episode Upaya AS Guncang Republik Islam

POROS PERLAWANAN — Sejak Revolusi Islam 1979, hubungan Iran dan Amerika Serikat berada dalam ketegangan berkepanjangan. Pemerintah Iran menilai Washington menjalankan strategi berlapis, militer, diplomatik, ekonomi, hingga informasi untuk melemahkan atau mengganti sistem politik di Teheran. Sejumlah pejabat Amerika mengakui adanya kebijakan tekanan terhadap Iran, meski efektivitasnya terus diperdebatkan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam pidato terbaru menanggapi pernyataan Presiden AS terkait ketahanan Republik Islam. “Presiden Amerika Serikat mengatakan selama 47 tahun, Amerika Serikat belum mampu menghancurkan Republik Islam. Saya katakan, Anda pun tidak akan mampu melakukan hal itu.”

Di Washington, pengakuan mengenai kebijakan tekanan juga muncul. Menteri Luar Negeri era Presiden Joe Biden, Antony Blinken, dalam wawancara menyebut upaya perubahan Pemerintahan Iran telah berlangsung lama tanpa hasil yang menentukan. Kompleksitas sosial-politik Iran dinilai menjadi faktor utama yang menghambat perubahan dari luar.

Berikut sepuluh episode yang kerap disebut dalam narasi resmi Iran sebagai rangkaian upaya tersebut.

1. Arahan intelijen pasca-Revolusi

Tidak lama setelah Revolusi 1979, Presiden AS saat itu, Jimmy Carter mengeluarkan arahan kepada CIA untuk menjalankan operasi propaganda, politik, dan ekonomi guna mendukung terbentuknya pemerintahan alternatif yang lebih dekat dengan Barat. Dokumen yang kemudian dipublikasikan memuat instruksi menjalin kontak dengan tokoh oposisi dan membangun front politik baru.

2. Operasi militer “Cakar Elang”

Operation Eagle Claw dirancang untuk membebaskan sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran. Operasi melibatkan pasukan khusus, armada udara, dan dukungan logistik dari kapal perang di Kawasan.

Penasihat Keamanan Nasional Carter, Zbigniew Brzezinski, menyatakan: “Carter mengatakan kemungkinan para sandera dibebaskan sangat kecil dan sekarang saatnya mengambil tindakan yang tepat.”

Misi berakhir gagal di Tabas setelah kecelakaan helikopter. Peristiwa ini memperdalam ketegangan dan memperkuat konsolidasi politik internal Iran.

3. Rencana kudeta awal 1980-an

Setelah kegagalan operasi militer, opsi infiltrasi politik kembali dipertimbangkan. Rencana yang dikenal sebagai “Kudeta Niqab” disebut melibatkan jaringan militer dan sipil. Nasser Rokni, salah satu pelaku, mengaku: “Jika Amerika tidak berperan dalam kudeta ini, benih kudeta tidak akan pernah ditanam.”

4. Perang Iran–Irak

Perang delapan tahun dengan Irak menjadi konflik paling berdampak bagi Iran modern. Pemerintah Iran menilai dukungan Barat terhadap Saddam Hussein berlangsung luas, termasuk pembatasan akses senjata bagi Teheran.

Catatan Senat AS menyebut penggunaan jalur diplomatik dan finansial untuk membatasi pasokan militer ke Iran. Washington memandang kebijakan itu sebagai bagian dari kalkulasi keseimbangan kekuatan Kawasan.

5. Operasi Forough Javidan dan MKO

Kelompok Munafiqiin-e Khalq melancarkan Operasi Forough Javidan dari Irak pada akhir perang. Teheran menuding terdapat dukungan politik dari sebagian anggota Kongres AS.

Dalam buku “Operasi Mersad dan Nasib MKO”, dikutip surat anggota Kongres kepada Menteri Luar Negeri George Shultz: “Sangat disarankan menggunakan Organisasi Mujahidin yang bermarkas di Irak untuk menggulingkan Pemerintah Teheran.”

Operasi tersebut digagalkan dalam pertempuran di wilayah barat Iran.

6. Aktivisme mahasiswa dan jaringan media

Gelombang protes mahasiswa akhir 1990-an hingga awal 2000-an mendapat sorotan luas media internasional. Nama Ahmad Batebi mencuat setelah fotonya dipublikasikan majalah asing dan kemudian bermukim di Amerika. Aktivitasnya di media berbahasa Persia dipandang Teheran sebagai bagian dari perang informasi.

Washington menegaskan dukungan terhadap kebebasan berekspresi, sementara Iran melihatnya sebagai intervensi naratif.

7. Kontestasi Pemilu 2009

Protes pasca-Pemilu 2009 menjadi titik kritis. Presiden AS saat itu, Barack Obama menyampaikan keprihatinan atas penanganan demonstrasi.

John Bolton dalam wawancara dengan The Daily Telegraph mengatakan, “Kita menyaksikan upaya di Teheran untuk memicu revolusi warna yang dipimpin CIA.”

Pernyataan tersebut memicu perdebatan mengenai keterlibatan eksternal.

Iran menilai narasi kecurangan menjadi instrumen delegitimasi sistem.

8. Protes nasional 2022

Gelombang demonstrasi nasional terjadi pada 1401 kalender Persia atau 2022 Masehi setelah kematian Mahsa Amini yang ditahan polisi moral. Aksi meluas dari isu penegakan hijab menjadi tuntutan kebebasan sipil dan reformasi politik.

Media Pemerintah Iran melaporkan dugaan koordinasi pejabat Amerika dalam memantau situasi protes. Laporan Tehran Times menyebut adanya evaluasi rutin oleh Dewan Keamanan Nasional AS.

Pemerintah AS membantah tuduhan intervensi langsung. Washington menyatakan dukungan terhadap hak asasi dan kebebasan berekspresi bersifat normatif, bukan operasi perubahan rezim.

9. Tekanan regional dan Israel

Ketegangan Iran dengan Israel kerap dikaitkan dengan kalkulasi strategis Washington. Perdana Menteri Benyamin Netanyahu beberapa kali menyerukan “Tekanan Maksimum” terhadap Iran.

Media Israel mendorong kebijakan lebih keras terhadap Teheran, termasuk dukungan terhadap kelompok oposisi. Iran menilai dinamika tersebut bagian dari arsitektur tekanan kolektif.

10. Dugaan rencana kudeta terbaru

Media Iran, termasuk Fars News Agency melaporkan dugaan rencana kudeta Januari 1404 yang melibatkan jaringan bersenjata dan operasi psikologis. Pemerintah AS tidak mengakui tuduhan tersebut.

Ketegangan keamanan siber, sanksi ekonomi, dan perang informasi terus berlangsung di tengah klaim yang saling bertolak belakang.

Konsolidasi dan arah ke depan

Empat dekade tekanan eksternal membentuk strategi pertahanan berlapis Iran, mulai dari penguatan militer domestik hingga diplomasi regional. Amerika mempertahankan sanksi dan tekanan diplomatik sebagai instrumen utama kebijakan luar negeri.

Rivalitas ini tidak lagi sekadar konflik bilateral. Dinamika tersebut memengaruhi stabilitas energi, keamanan maritim, dan aliansi regional di Timur Tengah. Tanpa perubahan mendasar dalam hubungan kedua negara, siklus tekanan dan resistensi diperkirakan berlanjut.

Washington menekan, Teheran bertahan. Empat puluh tujuh tahun terakhir menunjukkan perubahan rezim bukan proses instan dalam geopolitik modern.

Tags: