Dari Balik Layar: Tahrir al-Sham dan Rencana AS-Israel di Kawasan
POROS PERLAWANAN – Jatuhnya Pemerintahan Bashar al-Assad dan penguasaan Suriah oleh kelompok Takfiri Tahrir al-Sham merupakan bagian dari rencana bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menghancurkan Poros Perlawanan. Pertemuan dan kemesraan baru-baru ini antara pejabat AS dan pemimpin Tahrir al-Sham, Abu Muhammad al-Jolani, memperlihatkan dukungan terang-terangan terhadap kelompok ini.
Rencana Kompleks AS dan Israel di Suriah
Penggulingan Bashar al-Assad dan kemajuan Tahrir al-Sham bukanlah peristiwa spontan, melainkan bagian dari strategi besar jangka panjang yang telah dirancang lama oleh AS dan Israel. Selain mengancam stabilitas Suriah, tujuan utamanya adalah melumpuhkan Poros Perlawanan, yang dianggap sebagai ancaman utama bagi kepentingan AS dan Israel di Kawasan.
Hal ini semakin jelas setelah pertemuan antara al-Jolani dan pejabat senior AS dari Departemen Luar Negeri, yang mengindikasikan adanya konspirasi bersama di balik peristiwa ini. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam pidatonya pada 21 Desember lalu, secara tegas menyebutkan bahwa krisis di Suriah adalah produk dari rencana gabungan AS dan Israel, dengan keterlibatan sekutu regional yang memainkan peran pelengkap.
Tahrir al-Sham sebagai Alat AS
Tahrir al-Sham, yang dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jolani, menjadi alat utama dalam rencana AS dan Israel. Jolani, yang sebelumnya terlibat dalam kelompok al-Qaeda dan Takfiri ISIS, kini mendapat dukungan politik dan militer dari AS serta sejumlah negara Kawasan. Kelompok ini bertujuan menciptakan ketidakstabilan dan mengubah keseimbangan kekuatan demi keuntungan Israel.
Menurut laporan, anggota Tahrir al-Sham dilatih di pangkalan militer AS dan Israel. Hal ini menggarisbawahi hubungan langsung antara kelompok ini dengan kebijakan kolonialisme baru Barat di Timur Tengah. Meskipun AS secara resmi mengklasifikasikan Tahrir al-Sham sebagai organisasi teroris pada 31 Mei 2018, pertemuan terbaru dengan al-Jolani menunjukkan kontradiksi dalam kebijakan tersebut.
Jejak Dukungan AS terhadap Kelompok Teroris
Dukungan AS terhadap kelompok-kelompok ekstremis dan Takfiri bukanlah hal baru. Mantan Presiden AS Donald Trump, dalam kampanye presidennya pada 2016, secara terang-terangan menuduh Presiden Barack Obama dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton sebagai pendiri ISIS. Pernyataan Trump mencerminkan kebijakan luar negeri AS yang kontroversial, yang justru memperkuat kelompok-kelompok teroris dengan dalih memerangi mereka.
Kongres AS juga mencatat pengakuan bahwa dana dan pelatihan yang diberikan kepada pemberontak anti-Assad sering kali berakhir di tangan ISIS. Selain itu, sejumlah analis seperti Jeffrey Sachs, profesor di Universitas Columbia, menyoroti peran AS dan Israel dalam menciptakan ketidakstabilan di Kawasan dengan menggulingkan pemerintah-pemerintah yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka.
Kegagalan Strategi AS dan Keberlanjutan Perlawanan
Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa rencana-rencana AS dan Israel akan menemui kegagalan besar. Dari kegagalan Israel menghancurkan Hizbullah di Lebanon Selatan, hingga kekalahan AS dalam upayanya mengendalikan Irak dan Afghanistan, semua ini menunjukkan kekuatan Perlawanan di Kawasan.
Poros Perlawanan, yang didukung oleh solidaritas rakyat dan kesiapan strategis, terus menjadi benteng kokoh menghadapi konspirasi musuh. Rencana AS dan Israel untuk melemahkan Kawasan tidak hanya akan gagal, tetapi juga semakin memperkuat tekad Perlawanan dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas.
