Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Darah Anak Gaza dan Nyawa Tawanan: Harga Ambisi Kuasa Netanyahu

POROS PERLAWANAN – Dalam gema jerit penderitaan yang tak kunjung henti dari reruntuhan Gaza, Gerakan Perlawanan Islam Hamas kembali menegaskan kebenaran yang ingin disangkal oleh dunia yang lumpuh nuraninya: bahwa Benyamin Netanyahu adalah dalang utama berlanjutnya perang dan penderitaan yang menyertainya, baik bagi rakyat Palestina maupun tawanan dari pihak musuh sendiri.

“Meningkatnya suara-suara protes di dalam rezim Pendudukan untuk menghentikan perang dan membebaskan para tahanan adalah bukti nyata dari tanggung jawab pribadi Benyamin Netanyahu atas kelanjutan perang dan penderitaan serta kesulitan para tahanan Zionis dan rakyat Palestina.” Demikian tegas pernyataan resmi Hamas, pada Sabtu 12 April, seperti dilansir Kantor Berita Shahab.

Gerakan itu menyoroti bahwa apa yang terjadi hari ini bukan sekadar konflik militer, tetapi kalkulasi kekuasaan seorang penguasa yang tengah tenggelam dalam krisis politik internal dan tuntutan pengadilan atas kejahatannya.

“Darah anak-anak Gaza dan tawanan perang adalah pengorbanan bagi ambisi Netanyahu untuk tetap berkuasa dan lolos dari pengadilan.”

Netanyahu, yang membangun kekuasaannya di atas reruntuhan rumah-rumah warga sipil, tahu betul bahwa berakhirnya perang bisa berarti berakhir pula kekebalannya. Karena itu, ia menolak formula yang bahkan telah diterima dunia internasional: penghentian perang dengan imbalan pembebasan para tahanan.

“Persamaannya jelas: Pembebasan tawanan dengan imbalan penghentian perang. Dunia telah menerima persamaan ini, tetapi Netanyahu menolaknya.”

Setiap hari keterlambatan adalah nyawa yang melayang. Setiap jam keterlambatan adalah tubuh anak-anak yang ditarik dari puing-puing.. dan setiap detik keterlambatan adalah nasib tak pasti para tahanan yang menjadi korban tambahan dalam sandiwara politik Tel Aviv.

“Setiap hari penundaan berarti semakin banyaknya pembunuhan warga sipil Palestina yang tak berdaya dan nasib yang tidak diketahui bagi tawanan musuh.”

Dalam narasi ini, Netanyahu bukan hanya penunda damai. Ia adalah penjagal waktu, mengulur perdamaian untuk menyelamatkan dirinya, menjadikan Gaza sebagai perisai kekuasaan, dan menyandera bahkan warganya sendiri demi satu hal: bertahan di kursi kekuasaan yang sudah tak lagi memiliki legitimasi moral maupun legal.

Tags: