Evakuasi Gaza atau Normalisasi Genosida? Saat Solidaritas Dijebak Jadi Proyek Pro-Zionis
POROS PERLAWANAN – Ketika genosida berlangsung siang dan malam di Gaza, yang dibutuhkan rakyat Palestina bukanlah jalur evakuasi ke negeri asing, tetapi jaminan perlawanan dan pembebasan. Namun di tengah kobaran api perlawanan dan runtuhnya mitos superioritas Militer Zionis, muncullah narasi baru dari Jakarta: wacana menerima seribu pengungsi dari Gaza.
Mungkin terdengar humanis. Namun jangan terkecoh, sebab jalan ke neraka kerap dibangun dari niat baik yang tidak sadar telah menjadi bagian dari proyek kolonialisme baru.
Guru Besar Geopolitik UGM, Prof. Dr. Siti Mutiah Setiawati, pada Rabu 16 April yang dikutip dari situs resmi Universitas, secara lugas mengingatkan bahwa langkah lebih strategis bagi Indonesia bukanlah menerima pengungsi, melainkan memperkuat dukungan terhadap UNRWA; Badan PBB yang memang didesain untuk mendampingi para pengungsi Palestina di tanah-tanah terdekat mereka. Mengapa? Karena eksodus massal dari Gaza, betapapun berbalut narasi kemanusiaan, hanya akan menyempurnakan tujuan Zionis: mengosongkan tanah Palestina dari rakyatnya.
Sudah lebih dari 75 tahun rezim penjajah berusaha mengubah demografi Palestina melalui pengusiran, pembantaian, dan kamp-kamp pengungsian. Kini, mereka melakukannya dengan dalih “evakuasi kemanusiaan” yang justru didorong oleh negara-negara besar yang mendukung penjajah itu sendiri. Maka, ketika negara dunia ketiga yang selama ini bersuara lantang untuk Palestina mulai membuka pintu bagi relokasi pengungsi, kita patut bertanya: apakah ini bentuk solidaritas, atau jebakan legalisasi proyek pembersihan etnis?
Jangan salah paham: mendukung Gaza bukan berarti menampung mereka, tapi memastikan mereka bisa bertahan dan kembali berjuang di tanah mereka sendiri. Bahkan negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania dengan kedekatan budaya dan geografis yang jauh lebih tinggi, masih menolak menjadi tempat relokasi permanen. Lalu, mengapa Indonesia terburu-buru ingin mengambil peran yang justru bisa mempercepat proses “Libyanisasi” Palestina?
Lebih dari itu, kita perlu waspada terhadap skenario besar di balik wacana “pemindahan pengungsi”: pengosongan Gaza akan membuka ruang bagi pengambilalihan total dan proyek perluasan permukiman Yahudi. Zionis menunggu dunia lelah, lalu menerima realitas baru sebagai keniscayaan. Di sinilah kita diuji: apakah kita bagian dari barisan penentang, atau justru jadi pion dari mesin Pendudukan Global.
POROS PERLAWANAN menyerukan agar Pemerintah Indonesia menolak jebakan ini. Jangan biarkan kemanusiaan dibajak untuk melegitimasi penjajahan. Bantu warga Gaza tetap di Gaza dengan segala daya, termasuk memperkuat UNRWA, mendesak Mesir membuka Rafah untuk bantuan medis dan logistik, dan terus mendorong diplomasi ofensif terhadap Zionis dan para pendukungnya.
Solidaritas sejati bukan evakuasi massal. Solidaritas adalah memastikan bahwa setiap anak Gaza masih bisa melihat langit Palestina, bukan atap penampungan pengungsi di negeri jauh.
