Netanyahu Frustrasi atas Gencatan Senjata AS–Ansharullah, Sebut Israel ‘Akan Bela Diri Sendiri’
POROS PERLAWANAN – Perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Gerakan Ansharullah Yaman (Houthi) memicu respons keras dari Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelemahan posisi Israel di tengah ketegangan regional.
Dikutip dari kantor berita Mehr pada Kamis 8 Mei, Netanyahu dalam pernyataan resminya mengatakan, “Satu prinsip strategis membimbing saya: Israel akan membela diri sendiri terhadap ancaman apa pun, di mana pun.”
Pernyataan ini dilontarkan setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan penghentian serangan militer terhadap Yaman. Keputusan tersebut memicu kegelisahan di kalangan elite politik Israel, terutama karena tidak adanya koordinasi sebelumnya dengan Tel Aviv.
Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa kebijakan unilateral Washington ini ditafsirkan sebagai bentuk “kelalaian” atau bahkan “pengabaian” terhadap sekutunya di Kawasan.
Meski selama ini Amerika Serikat dikenal sebagai pendukung setia Israel, bahkan terlibat langsung dalam agresi udara terhadap Yaman, serangkaian serangan balasan dari Ansharullah terhadap kepentingan AS dan Israel dinilai telah memaksa Washington untuk mengevaluasi ulang pendekatannya.
Dalam perkembangan terkait, Kementerian Luar Negeri Oman pada Selasa malam mengumumkan bahwa mereka telah memediasi perjanjian gencatan senjata antara kedua pihak.
“Diskusi dan kontak telah diadakan dengan Amerika Serikat dan pihak berwenang terkait di Yaman,” demikian isi pernyataan resmi Oman. Upaya diplomatik tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang mencakup komitmen kedua belah pihak untuk menghentikan semua serangan.
Kesepakatan itu juga menjamin kebebasan navigasi di kawasan strategis Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, yang selama ini menjadi titik panas dalam konflik militer dan ekonomi internasional.
