Gaza Tak Lagi ‘Subur’ Ketika Israel Sengaja Jadikan Rahim Wanita Palestina sebagai Target Perang
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, di tengah puing-puing dan kehancuran akibat agresi Israel yang terus berlangsung, muncul dugaan bahwa serangan Militer Zionis bukan hanya menargetkan infrastruktur dan penduduk sipil, melainkan juga masa depan demografis Palestina. Serangkaian laporan dan investigasi mengungkap bahwa pusat-pusat fertilitas di Jalur Gaza telah menjadi sasaran, dalam apa yang disebut sebagai bentuk baru dari “perang terhadap kesuburan”.
Salah satu kasus paling mengharukan terjadi di kamp pengungsi Nuseirat. Seorang perempuan Palestina ditemukan duduk di atas reruntuhan rumahnya, menggendong bayi sembari menatap lokasi yang dulu menjadi harapan terakhirnya untuk memiliki anak lagi, Pusat Fertilitas Basma. Pada Desember 2023, fasilitas medis itu luluh lantak akibat serangan udara Israel. Bersama dengan bangunannya, lebih dari 4.000 embrio serta ribuan sampel sperma dan sel telur hancur seketika, menghapus kemungkinan ribuan kehamilan di masa depan.
Pusat tersebut didirikan oleh Dr. Bahaa al-Din al-Ghalayini, dokter spesialis kesuburan yang mengenyam pendidikan di Inggris. Ia menyebut kehancuran fasilitas itu sebagai “pembunuhan masa depan”, menyoroti betapa mahal dan emosionalnya proses penyimpanan embrio bagi pasangan-pasangan tak subur di Gaza.
“Ketika nitrogen cair menguap dan tangki kehilangan suhu ideal, seluruh harapan itu mati,” ujar Dr. al-Ghalayini dengan nada pilu.
Fasilitas Fertilitas Dihancurkan, Harapan Rakyat Palestina Pupus
Salah satu pasien, Saba Jaafarawi, telah menjalani terapi kesuburan selama tiga tahun. Meski harus melalui proses menyakitkan dan mahal, ia tetap berharap memiliki anak. Harapan itu musnah dalam satu malam ketika laboratorium tempat embrionya disimpan rata dengan tanah.
Bukan hanya Basma, laporan gabungan dari WHO dan UNICEF mencatat 14 klinik fertilitas di Gaza telah dibom antara Oktober 2023 hingga pertengahan 2024.
Menurut Komite Pencari Fakta PBB, penghancuran ini “dilakukan secara sengaja” dan bertujuan untuk mencegah kelahiran di kalangan warga Palestina, sebuah tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan genosida.
Angka Kelahiran Menurun Drastis, Gaza Hadapi Krisis Demografis
Sebelum perang, Gaza dikenal dengan tingkat kesuburan yang tinggi, sekitar 3,9 kelahiran per wanita, jauh di atas rata-rata global. Namun, data terbaru menunjukkan angka tersebut kini anjlok mendekati nol. Penurunan ini dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang memburuk, larangan impor alat kontrasepsi, serta gangguan terhadap sistem kesehatan reproduksi.
Sekitar 50.000 wanita hamil saat ini berlindung di kamp pengungsian tanpa akses ke perawatan medis layak. Sebanyak 15 persen di antaranya diperkirakan mengalami komplikasi serius selama kehamilan. Banyak yang terpaksa melahirkan di tempat yang tidak layak, seperti tenda atau reruntuhan bangunan.
Tubuh Perempuan Jadi Medan Perang: Strategi Demografi Israel Dipertanyakan
Peneliti dari berbagai lembaga menyebut penghancuran fasilitas fertilitas ini sebagai bagian dari kebijakan “rekayasa demografi” Israel, strategi yang telah lama diduga kuat digunakan untuk mempertahankan dominasi populasi Yahudi dengan membatasi pertumbuhan penduduk Palestina.
Laporan menunjukkan bahwa kawasan padat penduduk seperti Shuja’iyya menjadi sasaran utama serangan. Kehancuran ini dinilai bukan hanya sebagai kerusakan medis, melainkan juga serangan terhadap identitas dan kelangsungan hidup rakyat Palestina.
Ketahanan di Tengah Kehancuran: “Rahim Perlawanan” di Gaza
Meski menghadapi kehancuran total, muncul solidaritas dan ketahanan luar biasa dari masyarakat sipil. Bidan dan tenaga kesehatan terus memberikan bantuan di kondisi yang sangat terbatas, bahkan menggunakan peralatan rumah tangga untuk membantu proses persalinan.
“Kami tidak akan berhenti,” kata Dr. al-Ghalayini, “karena kami tahu setiap embrio yang hilang adalah satu kehidupan yang tak sempat terwujud.”
Di dinding Rumah Sakit Al-Shifa yang hancur, sebuah tulisan tangan menjadi simbol harapan: “Setiap rahim yang melahirkan di sini adalah akta kelahiran kedua bagi Palestina”.
