Krisis Gaza Kian Memburuk: Bayi Prematur Berebut Napas dalam Satu Inkubator
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik nadir. Di Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza Utara, pemandangan memilukan terjadi setiap hari, di mana tiga hingga empat bayi prematur yang rapuh dan belum mampu bernapas sempurna terpaksa ditempatkan dalam satu inkubator. Langkah darurat ini terpaksa diambil lantaran pasokan bahan bakar hampir habis, dan rumah sakit tidak memiliki cukup energi untuk menyalakan seluruh alat medis yang tersedia.
Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Zahir al-Wahidi, krisis ini merupakan dampak langsung dari blokade ketat Israel yang telah berlangsung sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
“Kami hanya menerima alokasi bahan bakar yang sangat terbatas melalui koordinasi internasional. Jumlahnya tidak cukup bahkan untuk mempertahankan operasi medis yang paling dasar,” ungkap al-Wahidi.
Kondisi makin memprihatinkan seiring meningkatnya angka kelahiran prematur. Banyak ibu hamil yang hidup dalam kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak, tanpa air bersih, nutrisi cukup, atau akses layanan kesehatan. Ketegangan fisik dan trauma psikologis yang mereka alami berdampak langsung pada bayi mereka.
“Dalam situasi seperti ini, kami menyaksikan kelahiran bayi dengan berat badan sangat rendah dan kondisi kesehatan buruk. Tak ada pilihan lain, selain menempatkan mereka bersama dalam satu inkubator hanya untuk mempertahankan hidup mereka,” jelas al-Wahidi.
Data menunjukkan bahwa selama paruh pertama 2025, sekitar 17.000 bayi lahir di Gaza, dengan 10% di antaranya prematur. Namun rumah sakit tidak memiliki sumber daya memadai untuk merawat mereka semua.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa dari total rumah sakit di Gaza, kurang dari separuh yang masih beroperasi. Hanya sekitar 2.000 tempat tidur rumah sakit tersedia untuk dua juta penduduk. Kelangkaan susu formula, obat-obatan, suku cadang generator, hingga air bersih memperparah keadaan.
Kini, rumah sakit berubah menjadi zona keputusasaan. Di tengah upaya diplomatik internasional yang belum membuahkan hasil, bayi-bayi prematur Gaza terus berjuang bertahan hidup bukan dari penyakit, tapi dari krisis yang diciptakan rezim penjajah Israel.
