Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Ketua Fraksi Hizbullah: Menyerahkan Senjata adalah Bunuh Diri

Ketua Fraksi Hizbullah: Menyerahkan Senjata adalah Bunuh Diri

POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan al-Manar, Ketua Fraksi al-Wafa, Muhammad Raad, menyatakan, perkembangan yang dimulai sejak 2 tahun lalu dan berlanjut hingga hari ini merupakan “perkembangan yang di situ orang bisa melihat skala kebuntuan yang dihadapi orang-orang Zionis, meski mereka telah menggunakan berbagai teknologi modern.”

“Israel tidak mampu mengatasi problem sebuah front. Mereka bisa saja membuka kasus apa pun di Kawasan. Namun mereka tidak sanggup menyelesaikan satu pun kasus,” tandas Raad, Fars melaporkan.

“Pemerintah AS dipimpin seorang narsis haus perang, yang berusaha menutupi seluruh barbarisme yang tumbuh dari dalam peradaban Barat dengan metode Hollywood.”

“Peradaban Barat telah menunjukkan kebangkrutan nilai-nilainya. Hal ini ditunjukkan Israel melalui rasisme, pertumpahan darah, serta pelanggaran seluruh perjanjian dan kesepakatan. Bukti untuk klaim ini adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia terkait opini publik tentang barbarisme Israel.”

“Kesepakatan 17 Mei (1983) tidak bertahan lebih dari 9 bulan. Sebagian pihak semestinya tak perlu tergesa-gesa. Kita berada dalam tahap yang di situ AS bersikeras menentukan jadwal untuk melaksanakan apa yang didiktekannya kepada Pemerintah Lebanon. Kengototan ini disebabkan kebuntuan yang dihadapi musuh.”

“Israel memang mendapatkan capaian-capaian taktis. Namun mereka tidak memperoleh hasil dalam masalah-masalah strategis di berbagai front yang dibukanya. Pada hakikatnya, keberadaan Perlawanan-lah yang membuat buruk kondisi mereka.”

“Keputusan pelucutan senjata adalah keputusan terburu-buru yang dipaksakan oleh dikte pihak-pihak asing, bukan sebuah keputusan berdaulat. Keputusan ini melanggar Kesepakatan Nasional. Orang-orang yang mengambil keputusan ini mengakui, mereka melakukannya di bawah tekanan.”

“Perlawanan menderita kerugian karena musuh mengetahui sebagian teknik. Namun Perlawanan berhasil memulihkan diri. Siapa pun yang mengeklaim bahwa senjata tidak bisa melindungi Lebanon, berarti ia menyelewengkan fakta. Tekad-lah yang membawa kemenangan, bukan senjata. Tekad inilah yang menggagalkan serangan musuh ke kota al-Khayyam di tahun 2024 dan mencegah musuh merangsek ke arah Sungai Litani.”

“Siapa pun yang menyerahkan senjatanya, berarti dia telah menyerahkan kehormatannya. Tanyakan saja kepada para serdadu Militer apakah mereka bersedia menyerahkan senjata yang merupakan martabat dan kemuliaan mereka?”

“Penyerahan senjata adalah bunuh diri. Siapa yang bisa menjamin bahwa dia akan melindungi negara jika senjata diserahkan?”

“Saya tidak menganggap Presiden (Joseph Aoun) sama seperti Perdana Menteri (Nawaf Salam). Pengalaman Salam baru saja dimulai. Siapa pun yang ingin mengelola negara, dia harus dikenal oleh rakyat. Namun saya tidak tahu apakah dia menjalin hubungan dengan rakyat atau tidak.”

“Mereka yang berperan dalam keputusan pelucutan senjata adalah orang-orang bodoh atau mengambil sikap yang tak bertanggung jawab. Mereka melakukan kesalahan yang akan menyebabkan pilihan-pilihan sulit. Atmosfer kami di selatan (Lebanon), Bekaa, dan Dhahiyah (Beirut) adalah keputusan ini bakal ‘membuka jalan menuju Karbala.’”

“Bertahan atau keluar dari Pemerintahan adalah keputusan yang harus diambil Hizbullah. Sejauh ini belum ada keputusan yang diambil,” pungkasnya.

Tags: