Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Jejak Operasi Intelijen Inggris di Balik Serangan Mematikan Israel di Gaza

Lembaga Inggris Peringatkan Konsekuensi jika London Deklarasikan IRGC sebagai ‘Organisasi Teroris’

POROS PERLAWANAN — Pada Desember 2023, ketika sirene serangan udara bergema di kamp Nuseirat dan ledakan membelah langit malam Gaza, sebuah pesawat intelijen Inggris “Shadow R-1” terbang berputar-putar di atas pantai wilayah tersebut. Operasinya dimulai beberapa jam sebelum pengeboman, dan terus berlanjut hingga satu jam setelah ledakan terakhir mereda.

Pada Rabu 13 Agustus, dokumen dan data penerbangan yang diperoleh oleh situs investigasi Declassified UK serta dikonfirmasi oleh sumber diplomatik, mengungkapkan bahwa penerbangan itu bukan insiden tunggal. Pesawat itu merupakan bagian dari jaringan operasi pengintaian Inggris–Amerika yang diduga memberi Israel keunggulan taktis dalam serangan yang menewaskan puluhan warga sipil, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Jejak Penerbangan dari Siprus

Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa misi tersebut berangkat dari Pangkalan Udara Akrotiri, instalasi militer Inggris di Siprus yang selama ini menjadi simpul strategis operasi NATO dan sekutunya di Timur Tengah. Dari sana, pesawat pengintaian, termasuk milik kontraktor Amerika Street Flight Nevada melakukan patroli di atas Jalur Gaza.

Menurut Declassified UK, pola operasi ini terjadi berulang kali. Pada Juni 2024, dua minggu sebelum serangan besar yang kembali melanda kamp Nuseirat, aktivitas penerbangan serupa terpantau. Serangan tersebut, yang disebut Israel sebagai misi “penyelamatan” empat tahanan, berakhir dengan pembantaian besar: lebih dari 270 warga Palestina tewas.

Versi Resmi dan Kontradiksi Fakta

Pemerintah Inggris menyatakan bahwa operasi ini bertujuan membantu menemukan tahanan Israel. Namun, pejabat mereka tidak memberikan rincian mengenai jenis data intelijen yang dibagikan atau bagaimana informasi itu digunakan. Analisis Action Against Armed Violence menunjukkan skala operasi jauh melampaui klaim resmi: lebih dari 600 penerbangan pengintaian Inggris dilakukan sejak perang dimulai.

Keterlibatan ini memicu pertanyaan serius di London tentang sejauh mana Inggris dapat disebut “sekutu yang netral” ketika bukti menunjukkan aliran informasi intelijen ke Militer Israel di tengah tuduhan kejahatan perang.

Dimensi Hukum dan Moral

Pakar hukum internasional menilai bahwa jika data intelijen yang dikumpulkan digunakan untuk operasi yang berujung pada kematian warga sipil, Inggris dapat dianggap turut bertanggung jawab secara hukum. Prinsip “complicity in war crimes” dalam Statuta Roma mengatur bahwa dukungan militer atau intelijen yang memfasilitasi serangan terhadap warga sipil dapat menjadi dasar penuntutan.

“Memberikan koordinat target yang kemudian dipakai dalam serangan mematikan terhadap non-kombatan bukan sekadar masalah etika. Itu pelanggaran hukum internasional,” ujar seorang pengacara HAM yang terlibat dalam investigasi kejahatan perang di Palestina.

Rantai Koordinasi Intelijen

Sumber internal di Kementerian Pertahanan Inggris menyebut adanya “saluran khusus” antara tim intelijen RAF di Siprus dan unit analisis data di Israel. Informasi yang dikumpulkan, mulai dari citra udara resolusi tinggi, pola pergerakan, hingga sinyal komunikasi dilaporkan diproses cepat untuk mendukung keputusan serangan di lapangan.

Surat kabar The Times bahkan melaporkan bahwa aliran data intelijen ini akan terus berlanjut, terlepas dari eskalasi korban sipil.

Biaya Kemanusiaan

Angka-angka yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza per awal Agustus 2024 menunjukkan skala bencana: 61.599 orang tewas, 154.088 terluka, lebih dari 9.000 hilang, dan ratusan ribu mengungsi. Setidaknya 222 orang, termasuk 101 anak, meninggal akibat kelaparan yang diperburuk oleh blokade.

Bagi banyak warga Gaza, langit yang dipenuhi pesawat pengintaian berarti satu hal: ancaman serangan yang datang tanpa peringatan. “Kami melihat lampu di langit malam itu. Kami tahu sesuatu akan terjadi. Dan kami benar,” kata seorang penyintas serangan Nuseirat.

Pertanyaan yang Tertinggal

Dokumen Declassified UK meninggalkan pertanyaan yang tidak dijawab Pemerintah Inggris:

– Apakah data intelijen yang dikumpulkan digunakan untuk memilih target serangan udara?
– Apakah ada mekanisme untuk memastikan bahwa data itu tidak dimanfaatkan dalam serangan terhadap warga sipil?
– Dan mengapa operasi intelijen terus berlanjut meski bukti korban sipil terus menumpuk?

Sejauh ini, Downing Street tetap diam. Namun di ruang-ruang rapat tertutup di London, para pejabat kini menghadapi dilema yang sulit dihindari: di mata dunia, Inggris bukan hanya penonton di Gaza, ia bisa jadi adalah bagian dari mesin perang itu sendiri.

Tags: