Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Eks Komandan Intelijen Militer Zionis: Pembunuhan 50 Ribu Orang Palestina ‘Urgen untuk Dilakukan’ Demi Masa Depan Israel

Komandan Israel: Pembunuhan 50 Ribu Orang Palestina ‘Urgen untuk Dilakukan’

POROS PERLAWANAN – Rezim Zionis mengaku tidak ada genosida di Gaza. Namun berdasarkan file audio yang terungkap baru-baru ini, mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Aharon Haliva menyatakan bahwa pembunuhan lebih dari 50 ribu orang di Gaza “penting dilakukan demi masa depan Israel.”

Diberitakan Fars, CNN pada hari Senin 18 Agustus menukil ucapan Haliva bahwa “tiap beberapa waktu, orang-orang Palestina harus merasakan kembali ‘Hari Nakba.’”

“Untuk tiap kejadian dan tiap satu orang pada 7 Oktober (Operasi Badai al-Aqsa), 50 orang Palestina harus mati. Tidak ada bedanya anak kecil atau bukan,” ujar Haliva dalam file audio yang dipublikasikan Kanal 12 Israel pada Jumat lalu.

“Fakta bahwa hingga sekarang ada 50 ribu orang tewas di Gaza adalah sesuatu yang urgen untuk generasi-generasi mendatang.”

Tidak diketahui pasti kapan Haliva mengatakan hal ini. Namun sekitar 5 bulan lalu, jumlah syuhada di Gaza telah melewati angka 50 ribu.

“Tidak ada jalan lain. Mereka kadang kala membutuhkan satu Nakba demi menanggung akibatnya.”

Pada Hari Nakba adalah saat ketika kelompok-kelompok bersenjata Zionis mengusir lebih dari 700 ribu warga Palestina dari rumah-rumah mereka di tahun 1948.

Saat Badai al-Aqsa dimulai, Haliva menjabat sebagai Kepala Intelijen Militer Israel. Dia mengundurkan diri pada April 2024. Dia adalah perwira senior pertama Militer Israel yang mundur setelah Badai al-Aqsa akibat kegagalan intelijen dalam operasi tersebut.

Tampaknya file audio rekaman perbincangan dengan Haliva berdurasi lebih lama. Namun media-media Zionis tidak mengungkap identitas orang yang berbicara dengan Haliva. Klaim utama Haliva dalam rekaman tersebut adalah Militer Israel bukan satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab atas kekalahan Israel dalam Operasi Badai al-Aqsa.

Dia menyalahkan para pimpinan politik dan Shin Bet lantaran meyakini bahwa Hamas tidak akan melancarkan serangan.

Haliva mengaku kepada Kanal 12 bahwa pernyataan tersebut ia lontarkan dalam sebuah pertemuan pribadi. Ia berkata bahwa ia hanya bisa “prihatin” karena rekaman tersebut dipublikasikan.

Tags: