Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Netanyahu dan Mimpi Buruk yang Meledak di Tel Aviv

POROS PERLAWANAN — Beberapa hari lalu Benjamin Netanyahu ingin dunia percaya bahwa dirinya adalah “penyelamat Iran”. Ia berdiri di podium, menatap kamera, lalu berbicara seolah-olah kekeringan di Iran memberinya mandat moral untuk mengajak rakyat turun ke jalan. Namun, sejarah sering bercanda dengan cara yang paling pahit: beberapa hari setelah pidato itu, yang meledak bukan kerusuhan di Teheran, melainkan badai protes di Tel Aviv.

Lebih dari 2,5 juta orang membanjiri jalanan di seluruh wilayah pendudukan. Bayangkan: tiga dari sepuluh warga “Israel” turun ke jalan melawan pemimpin mereka sendiri. Sebuah angka yang tak hanya berbicara, tetapi berteriak lantang bahwa kepercayaan publik telah runtuh. Jika sebuah rezim yang dibangun dengan mitos keamanan dan janji kenyamanan kini justru dihantam protes rakyatnya sendiri, maka itu jelas bukan krisis politik, itu adalah krisis eksistensi.

Netanyahu mungkin bermimpi tentang “perang tanpa akhir” sebagai tiket perpanjangan usia politiknya. Namun rakyatnya sendiri sudah bosan menjadi bahan bakar mesin perang yang tak kunjung berhenti. Mereka tahu, setiap operasi militer ke Gaza bukan hanya membawa kehancuran bagi 2,4 juta warga Palestina, tetapi juga kematian bagi tentara Zionis dan para tawanan mereka. Sejarah mengajarkan: perang yang tak pernah selesai, pada akhirnya akan menelan pemimpinnya sendiri.

Ironisnya, saat rakyat menuntut tanggung jawab, Netanyahu justru memilih menyalahkan mereka. Dengan nada arogan, ia menuding demonstran sebagai pengkhianat yang memperkuat Hamas dan melemahkan negara. Retorika ini bukan saja gagal meredam amarah, tetapi justru mempertegas bahwa Netanyahu sudah kehilangan sentuhan politiknya. Ia bukan lagi pemimpin, melainkan penghasut yang takut pada bayang-bayang kejatuhan.

Lebih gawat lagi, tanda-tanda invasi baru ke Gaza semakin nyata. Amerika Serikat memberi restu, sementara Mesir ditekan agar menampung pengungsi. Bahkan ada upaya menjajaki relokasi warga Gaza ke Afrika, termasuk ke Indonesia. Apa nama lain dari kebijakan semacam itu, kalau bukan pembersihan etnis? Dunia seharusnya tidak lagi menutup mata.

Amnesty International sudah bersuara: Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Anak-anak mati karena lapar, dan dunia masih ragu untuk menghentikan suplai senjata. Pertanyaan moralnya sederhana: sampai kapan tragedi ini dibiarkan, hanya karena pelakunya bernama “Israel” dan bukan rezim yang lebih lemah?

Pada akhirnya, mimpi Netanyahu untuk memprovokasi kerusuhan di Iran berbalik arah menjadi mimpi buruk di tanah yang ia duduki. Ia ingin menampilkan diri sebagai penyelamat, tetapi wajah yang terpampang kini hanyalah seorang pemimpin terpojok, dikepung rakyatnya sendiri, dan terancam tumbang oleh mesin perang yang ia ciptakan.

Sejarah selalu memiliki selera humor yang kejam. Dan kali ini, ia memilih Tel Aviv sebagai panggung sandiwara terbesar untuk mempermalukan Netanyahu.

Tags: