Propaganda ala Instagram: Tentara AS Rayu Gen Z di Tengah Darah Gaza
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Angkatan Darat Amerika Serikat tengah mengadopsi strategi baru dalam upaya perekrutan, yakni memanfaatkan influencer gaya hidup untuk membangun citra positif militer di kalangan Generasi Z. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kritik global terhadap keterlibatan Washington dalam mendukung operasi militer Zionis Israel di Gaza.
Bulan lalu, seorang influencer kebugaran dengan 1,3 juta pengikut di Instagram, Steven Kelly membagikan foto dirinya mengenakan seragam militer, memanjat dinding tali, hingga mengarahkan senjata. Meski tidak tergabung dalam cabang militer mana pun, unggahan tersebut ternyata merupakan konten bersponsor dari Angkatan Darat AS. Dalam keterangan foto, Kelly menulis tentang nilai disiplin, ketahanan, dan kesiapan, sembari mengarahkan pengikutnya ke tautan pendaftaran militer.
Menurut laporan The Guardian, Kelly hanyalah satu dari banyak influencer yang digandeng untuk kampanye ini. Selain dirinya, terdapat pula seorang koki, vlogger perjalanan, hingga atlet olahraga ekstrem. Juru Bicara perekrutan Angkatan Darat AS, Madison Bonzo menyatakan bahwa kemitraan dengan influencer bertujuan memperluas jangkauan audiens, khususnya generasi muda yang minim paparan langsung terhadap dunia militer.
Strategi ini mencerminkan bagaimana Militer AS berupaya menjual gaya hidup dan petualangan ketimbang menampilkan kenyataan pahit perang. Konten yang dihasilkan menonjolkan sisi menyenangkan, seperti pengalaman terjun payung tandem yang diunggah influencer slacklining, Breannah Yeh, dengan slogan “Jadilah dirimu seutuhnya”.
Namun, kampanye ini menuai kritik. Banyak pengguna media sosial menyebut unggahan para influencer sebagai propaganda terselubung. Seorang warganet menuliskan: “Orang kaya menyuruh orang miskin melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan. Ini seperti Hunger Games”.
Para akademisi pun angkat bicara. Profesor di University of Southern California, Robert Kozinets menilai unggahan ini menyerupai iklan biasa: “Anda tidak harus hidup di Disneyland untuk bisa menulis ulasan tentang Disneyland.”
Kritik semakin keras karena kampanye ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kecaman internasional terhadap dukungan militer AS kepada Israel di Gaza. Jajak pendapat Gallup terbaru menunjukkan hanya sepertiga warga dewasa AS yang mendukung operasi militer Israel, di tengah laporan kelaparan massal dan pembatasan bantuan.
Dorongan besar untuk melibatkan influencer tak lepas dari kesulitan Angkatan Darat dalam mencapai target rekrutmen pascapandemi, ketika program ROTC dan jalur tradisional perekrutan terganggu. Meski demikian, pada Juni 2024, Militer AS mengumumkan telah memenuhi target 61.000 rekrutmen lebih cepat dari jadwal. Presiden Donald Trump bahkan menyebut capaian itu sebagai yang “tertinggi dalam 30 tahun”, menilai semangat patriotisme warga meningkat.
Bagi sejumlah pengamat, strategi ini merupakan eksploitasi terhadap generasi muda yang tengah mencari stabilitas di tengah krisis ekonomi dan politik. Asisten Profesor di Seton Hall University, Jess Rauchberg menilai Militer sedang menjual “janji keamanan” kepada Gen Z. “Pesannya sederhana: jika Anda bekerja untuk kami, kami akan memberikan stabilitas yang Anda cari,” ujarnya.
Dengan cara ini, Militer AS berusaha menutupi citra kerasnya sebagai institusi yang terlibat dalam konflik luar negeri, sembari menawarkan kehidupan yang tampak penuh tantangan dan kebanggaan. Namun, di balik narasi penuh glamor itu, kenyataan perang dan pendudukan tetap membayangi.
