Loading

Ketik untuk mencari

Eropa Palestina

Hamas: Orang-orang yang Ditangkap di Jerman Tidak Berafiliasi dengan Kami

Hamas: Orang-orang yang Ditangkap di Jerman Tidak Berafiliasi dengan Kami

POROS PERLAWANAN – Hamas pada Rabu 1 Oktober membantah adanya keterkaitan dengan tiga pria yang ditangkap di Jerman atas dugaan perencanaan serangan terhadap situs-situs Yahudi dan Israel.

Dilaporkan al-Mayadeen, Hamas menyebut tuduhan tersebut “tidak berdasar” dan menyatakan,“Kami tidak memiliki keterkaitan dengan individu-individu yang ditangkap hari ini di Jerman.”

Pada hari yang sama, jaksa penuntut umum federal Jerman mengumumkan bahwa tiga pria telah ditahan di Berlin dengan tuduhan sebagai anggota Hamas. Mereka juga dituduh membeli senjata api serta amunisi untuk serangan di Jerman.

Polisi mengeklaim telah menyita senapan serbu AK-47, beberapa pistol, dan sejumlah besar amunisi. “Senjata-senjata tersebut akan digunakan oleh Hamas untuk serangan mematikan yang menargetkan institusi Israel atau Yahudi di Jerman,” kata jaksa penuntut.

Der Spiegel mengabarkan, penggeledahan juga dilakukan di Leipzig pada saat yang sama dengan penangkapan di Berlin.

Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menyatakan bahwa aparat penegak hukum telah “menghalau ancaman terorisme.” Ia mengeklaim bahwa salah satu tersangka telah masuk ke Jerman beberapa bulan sebelumnya dan berada di bawah pengawasan.

“Kami jelas menjadi target teroris. Itulah mengapa kami harus selalu siap siaga untuk mempertahankan diri,” ujar Dobrindt kepada wartawan di Brussels.

Para tersangka, yang diidentifikasi sebagai warga negara Jerman Abed Al G. dan Ahmad I., serta Wael F. M. yang lahir di Lebanon, dihadapkan pada tuduhan keanggotaan dalam organisasi teroris asing dan mempersiapkan “tindakan kekerasan serius yang mengancam negara.” Mereka akan dihadirkan di pengadilan pada Kamis 2 Oktober ini.

Jerman, yang menganggap Hamas sebagai organisasi teroris, telah meningkatkan pengawasan dan pembatasan terhadap aktivitas pro-Palestina dan komunitas Arab/Muslim sejak 7 Oktober, memicu tuduhan tentang represi yang berlebihan.

Secara bersamaan, Jerman tetap memberikan dukungan yang tak tergoyahkan bagi Israel, meskipun kritik semakin meningkat terkait genosida yang dilakukan Rezim Zionis terhadap Palestina.

Kini, seiring dengan semakin banyaknya negara Eropa, termasuk Prancis, Inggris, dan Australia, yang bergerak untuk mengakui negara Palestina, Jerman semakin terisolasi.

Sejarawan Rene Wildangel secara tajam mengkritik pendekatan Berlin saat ini. Merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri Johann Wadephul di Sidang Umum PBB bahwa Gaza adalah “neraka di bumi,” Wildangel mengatakan, “Jerman melakukan terlalu sedikit untuk mengakhiri neraka ini. Jerman tidak boleh lagi membiarkan hal ini berlalu begitu saja.”

Meskipun seruan untuk bertindak semakin meningkat, Merz menegaskan bahwa Berlin saat ini tidak berencana untuk mengakui negara Palestina, yang membedakannya dari banyak sekutu Baratnya.

Tags: