Sekjen Hizbullah: Penentuan Nasib Gaza Ada di Tangan Perlawanan Palestina
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato peringatan satu tahun syahidnya Syekh Nabil Qawouk dan Sayyid Suhail al-Hussaini pada Sabtu 4 Oktober, Sekjen Hizbullah, Syekh Naim Qasim menanggapi rencana terkait Gaza yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan bahwa rencana tersebut sarat dengan bahaya.
Diberitakan al-Mayadeen, Syekh Qasim menambahkan bahwa rencana asli, yang diajukan dalam bentuk draf kepada beberapa negara Arab, kemudian diubah setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sehingga menghasilkan amandemen yang sepenuhnya menguntungkan entitas Israel dan sejalan dengan proyek yang disebut “Israel Raya”.
“Perlawanan Palestina adalah pihak yang berhak menentukan apa yang dianggapnya tepat terkait Jalur Gaza. Kata menyerah tidak ada dalam kamus Palestina,” tegasnya.
Syekh Qasim menambahkan, setelah gagal mencapai tujuannya melalui agresi dan pembantaian, Israel kini berusaha mewujudkan proyek ini melalui cara-cara politik. Ia menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Gaza selama dua tahun terakhir merupakan bagian integral dari proyek tersebut dan menegaskan bahwa segala sesuatu di kawasan ini saling terhubung.
“Kita menghadapi rencana yang penuh dengan tanda tanya, yang telah diakui sendiri oleh beberapa pejabat di negara-negara Arab, yang mengungkapkan kekagetan mereka dan menuntut klarifikasi. Ketika kita menghadapi pendudukan, masing-masing dari kita harus melakukannya dari posisi masing-masing,” tandasnya.
Terkait situasi di dalam negeri, ia menyatakan bahwa tujuan Israel bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan bagi Lebanon. Ia menambahkan bahwa Rezim Zionis secara khusus menargetkan warga sipil dan kalangan terpelajar untuk menekan Perlawanan.
“Israel mengharapkan kita membalas pelanggarannya demi mendapatkan dalih melanjutkan serangannya. Tetapi kita tidak melakukannya dan menggagalkan manuver ini.”
Sekjen Hizbullah mengakui bahwa meski Lebanon mungkin tidak sebanding secara militer dengan Israel, namun negara ini memiliki kekuatan yang terletak pada keyakinan rakyat, kesiapan untuk berkorban, komitmen terhadap tanah air dan perjuangan kemerdekaan, serta keteguhan dalam perjuangan Perlawanan.
“Dengan rakyat yang bangga dan bersejarah, yang tidak dapat dikalahkan, kita telah menciptakan bentuk keseimbangan yang mencegah musuh mencapai tujuannya,” tegasnya.
Syekh Qasim mencatat bahwa campur tangan AS di Lebanon didasarkan pada gagasan membangun negara dengan asumsi bahwa Hizbullah lemah, dengan menyatakan, “Mereka campur tangan dalam struktur negara untuk mencapai melalui politik apa yang gagal mereka capai melalui perang.”
“Kita memiliki rakyat yang kuat dan berani yang tahu bahwa jalan menyerah dan penghancuran politik dan sosial bukanlah pilihan.”
Berbicara tentang upaya beberapa pihak untuk memicu ketegangan antara Militer Lebanon dan Perlawanan, Syeikh Qasim menyoroti bagaimana Militer Lebanon merespons upaya tersebut dengan “tanggapan yang bijaksana dan terukur.”
Syeikh Qasim juga menekankan bahwa terdapat kemauan rasional yang berkomitmen untuk membangun Lebanon. Ia menambahkan bahwa baik Militer maupun Perlawanan secara konsisten mengecam segala bentuk perpecahan di antara mereka dan menekankan bahwa hal tersebut harus dihindari sepenuhnya.
Mengenai Armada Sumud dan para aktivis dari berbagai negara yang berkumpul dari seluruh dunia untuk menghentikan genosida di Gaza, Syekh Qasim menyatakan bahwa “hal ini memiliki makna yang sangat besar.” Ia berkata bahwa negara-negara di kawasan tersebut, terutama negara-negara Arab, seharusnya belajar dari sikap Spanyol dan mengambil tindakan serupa untuk tujuan ini.
