AS Gusar Pemerintah Lebanon Gagal Lucuti Senjata Hizbullah
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Sky News, pejabat Amerika Serikat mengutarakan amarah atas keengganan Pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah. Mereka pun melontarkan ancaman kepada Beirut.
“Lebanon telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan untuk mencapai solusi [terkait pelucutan senjata Hizbullah]. Kami khawatir akan terjadinya skenario terburuk,” ujar para pejabat AS itu, dikutip Fars dari Sky News.
Para pejabat AS yang nama mereka tidak disebutkan itu mengeklaim, upaya berulang kali Washington dan negara-negara regional untuk menawarkan insentif ekonomi dan politik kepada Lebanon “telah menabrak tembok besi.”
“Kinerja kepemimpinan politik Lebanon membuat negara ini berada dalam keadaan kacau dan terbelenggu, karena partai-partai kunci di Beirut telah memutuskan untuk mempertahankan situasi yang ada.”
“Pilihan mereka berarti Lebanon akan tetap menjadi negara yang bangkrut,” imbuh mereka dengan nada mengancam.
Dalam bagian lain dari pernyataan mereka, para pejabat AS itu merujuk pada tuduhan tanpa dasar terhadap Hizbullah dan mengeklaim, Lebanon telah berubah menjadi satu-satunya negara yang mendukung “sebuah organisasi teroris asing” sebagai bagian fundamental dari kepemimpinannya.
Dalam beberapa bulan terakhir, setelah gencatan senjata November 2024 yang mengakhiri perang antara Israel dan Hizbullah, AS telah meningkatkan tekanan diplomatik, finansial, dan militernya terhadap Pemerintah Lebanon untuk mendesak pelucutan senjata Hizbullah.
Ancaman para pejabat AS ini dilontarkan di saat dalam beberapa hari terakhir telah beredar berbagai laporan tentang pemulihan kekuatan Hizbullah.
Beberapa hari lalu, Jerusalem Post mengutip laporan dari para petinggi Badan Intelijen negara-negara Barat bahwa kecepatan pemulihan kekuatan Hizbullah Lebanon telah melampaui upaya Pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata kelompok tersebut.
Sumber-sumber tersebut, yang nama dan negara mereka tidak disebutkan, mengatakan kepada surat kabar Israel bahwa Hizbullah berhasil mempersenjatai dirinya dengan berbagai senjata, termasuk roket. Hizbullah juga disebut-sebut telah merekrut pasukan baru dan mengaktifkan kembali pangkalan dan basis-basisnya.
Sebagian besar kegiatan rekonstruksi ini tengah dilakukan di wilayah utara Sungai Litani, bukan di wilayah antara selatan sungai tersebut hingga perbatasan Palestina yang diduduki.
Beberapa minggu lalu, Pemerintah Lebanon mengajukan rencana untuk melucuti senjata Hizbullah. Israel juga menyetujui pengurangan aktivitas militernya di Lebanon, termasuk penarikan pasukan dari lima pangkalan, sebagai respons terhadap komitmen Militer Lebanon untuk mengambil tindakan serius terhadap kelompok tersebut.
Sumber-sumber Israel dan asing mengatakan kepada Jerusalem Post, Militer Lebanon telah menunjukkan niat dan kesiapannya untuk bertindak terhadap Hizbullah. Tetapi mereka menegaskan bahwa masih banyak jalan yang harus ditempuh sebelum pelucutan senjata dapat terwujud.
