Tel Aviv Khawatir Tekanan Trump Dorong Transisi ke Fase Kedua Gencatan Senjata Gaza
POROS PERLAWANAN — Media Israel melaporkan adanya kekhawatiran di Tel Aviv terkait potensi tekanan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mendorong transisi ke fase kedua gencatan senjata Gaza tanpa disertai pelucutan senjata di wilayah tersebut.
Kantor Berita Mehr pada Kamis 25 Desember, mengutip jaringan Al-Mayadeen melaporkan bahwa sejumlah media Israel menilai Washington berpotensi mendorong implementasi fase lanjutan perjanjian Gaza tanpa prasyarat pelucutan senjata Hamas.
Organisasi Radio dan Televisi Israel, mengutip sumber internalnya, menyebutkan bahwa fase kedua perjanjian diperkirakan akan dibahas setelah pertemuan antara Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dan Presiden Trump.
Kekhawatiran Israel tidak semata bersifat teknis-keamanan, melainkan menyentuh masalah legitimasi strategis. Transisi ke fase kedua tanpa pelucutan senjata akan menandai kegagalan Israel mengonversi keunggulan militer menjadi hasil politik. Dalam logika kekuasaan klasik, perang dianggap berhasil bukan saat tembakan berhenti, tetapi ketika pihak lawan kehilangan kemampuan dan simbol perlawanan. Fase kedua tanpa pelucutan senjata justru membalik narasi tersebut.
Lebih jauh, tekanan Trump dipandang berisiko menggeser posisi Israel dari pengendali tempo konflik menjadi pihak yang bereaksi terhadap kehendak sekutu utamanya. Selama ini, Tel Aviv mempertahankan kendali dengan menautkan setiap fase gencatan senjata pada konsesi keamanan yang konkret. Jika kaitan itu terputus, Israel kehilangan instrumen utama untuk memaksa hasil di meja negosiasi.
Ada pula dimensi simbolik yang jarang diungkap secara terbuka. Bagi Israel, pelucutan senjata bukan hanya soal ancaman fisik, tetapi penegasan hierarki kekuasaan. Gencatan senjata yang mempertahankan struktur bersenjata di Gaza akan dibaca, baik oleh aktor regional maupun domestik sebagai preseden bahwa tekanan militer Israel tidak lagi menentukan arah akhir konflik.
Di dalam negeri, skenario ini berpotensi memperdalam krisis politik Rezim Netanyahu. Tekanan eksternal dari Washington yang tidak sejalan dengan tuntutan keamanan internal akan memperlemah klaim kepemimpinan Netanyahu sebagai penjamin keamanan nasional, sekaligus memperkuat oposisi yang menilai perang Gaza tidak menghasilkan “hasil strategis” yang dijanjikan.
Sementara itu, sumber-sumber Israel menegaskan bahwa fase kedua perjanjian Gaza diperkirakan tidak akan dijalankan sebelum pemulangan jenazah tahanan terakhir. Isu ini dipandang sebagai satu-satunya kartu tersisa untuk mempertahankan posisi tawar Israel dalam proses negosiasi yang semakin ditentukan oleh dinamika eksternal.
