Loading

Ketik untuk mencari

Palestina Profil

Profil Singkat Jubir Brigade al-Qassam, Syahid Abu Ubaidah

Profil Singkat Jubir Brigade al-Qassam, Syahid Abu Ubaidah

POROS PERLAWANAN – Pada hari Senin 29 Desember, Hamas mengonfirmasi syahidnya Juru Bicara Brigade al-Qassam, Abu Ubaidah. Hamas mengumumkan bahwa komandan besar ini meraih derajat syahadah bersama keluarganya di Gaza, tanah keteguhan dan jihad, setelah serangan bom Militer Zionis. Ia gugur setelah berjuang dengan gagah berani melawan musuh dan tidak pernah mundur dari medan perang. Abu Ubaidah mengorbankan nyawanya demi nilai sakral yang telah ia suarakan dengan lantang selama bertahun-tahun, dalam pertempuran mulia bangsa Palestina, yaitu Operasi Badai al-Aqsa.

“Pembunuhan terhadap para pemimpin, komandan, dan simbol Perlawanan tidak akan pernah mampu mematahkan tekad bangsa kami. Kejahatan-kejahatan ini hanya menambah kekuatan, keteguhan, dan komitmen kami terhadap hak-hak kami dalam mempertahankan tanah dan tempat suci kami. Sejarah Hamas telah membuktikan bahwa gerakan ini kembali lebih kuat, lebih bersatu, dan dengan tekad yang lebih teguh untuk menyerang musuh setelah syahadah para pemimpinnya,” tegas Hamas dalam statemennya, Mehr melaporkan.

Untuk pertama kalinya, Hamas mengungkap identitas asli Abu Ubaidah. Nama lengkapnya adalah Hudzaifah Samir al-Kahlout, dengan julukan Abu Ibrahim, yang bertindak sebagai Juru Bicara Brigade al-Qassam.

Kehidupan dan Kepribadian Syahid al-Kahlout

Syahid Hudzaifah al-Kahlout berasal dari desa Na’alia di wilayah Palestina yang diduduki, tempat keluarganya diusir dari situ selama Hari Nakba 1948 dan kemudian menetap di kamp pengungsi Jabalia di utara Gaza.

Menurut sumber-sumber Palestina dan Zionis, ia menjadi target pembunuhan berulang kali. Rumahnya dibom berulang kali oleh pesawat tempur Zionis, mulai dari perang pertama atas Jalur Gaza pada tahun 2008, hingga perang 2012 dan 2014. Berbagai upaya teror yang signifikan juga dilakukan selama genosida terbaru.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh situs web surat kabar Zionis, Yedioth Ahronoth pada 25 Juli 2014, kehidupan Abu Ubaidah yang aman tidak menghalanginya untuk melanjutkan studi universitasnya. Pada 2013 ia meraih gelar magister dari Fakultas Ushuludin di Universitas Islam Gaza, dengan tesis berjudul “Tanah Suci antara Yahudi, Kristen, dan Islam.” Ia bahkan sedang mempersiapkan diri untuk menerima gelar doktor dalam waktu dekat.

Menurut analis politik Ayad al-Qura, Abu Ubaidah memiliki kepribadian yang seimbang. Dia pandai menjaga rahasia, yang memberinya aura dan karakteristik khas. Ia menjalankan perang psikologis dengan menargetkan tentara dan masyarakat Zionis.

Al-Qura meyakini, kepribadian Abu Ubaidah mungkin merupakan salah satu senjata propaganda atau perang media paling penting yang digunakan Hamas dalam semua perang dan konfrontasinya dengan Pendudukan. Sementara warga Palestina dan pendukungnya menanti pernyataannya, Militer Zionis, Badan Intelijennya, dan bahkan opini publik Israel, juga terus memantau dirinya.

Abu Ubaidah; Sosok yang Unik

Pahlawan Palestina yang tak dikenal ini meraih ketenaran yang unik; sesuatu yang tidak pernah ia cari. Setelah Operasi Badai al-Aqsa, Abu Ubaidah dengan berani menghadapi bahaya, tampil di garis depan perang informasi dan psikologis melawan Musuh Zionis dengan kharisma khasnya, mengenakan seragam militer dan keffiyeh merah, dengan pita hijau bertuliskan “Brigade Qassam” terikat di dahinya.

Abu Ubaidah memiliki kefasihan bahasa Arab yang membuatnya menjadi pejuang di front media. Menurut para ahli dan pengamat, kata-katanya menghantam musuh seperti peluru, dan keyakinan serta kepercayaan dirinya tercermin dalam pidatonya yang melodis dan presisi.

Al-Qura, seorang penulis dan analis politik, mengatakan kepada al-Jazeera: “Tidak diragukan lagi bahwa selama bertahun-tahun, kepribadian Abu Ubaidah unik dalam banyak hal, terutama dengan menjaga penampilan militer, seragam, dan topengnya.”

Menurut al-Qura, al-Kahlout sama telitinya dalam menjaga tampilan dan kehadiran disiplinnya seperti halnya dalam ia memerhatikan bentuk, pemilihan waktu, dan isi pidato militernya.

Dia menambahkan, Abu Ubaidah tetap mempertahankan kehadirannya di media, bahkan ketika Israel berusaha menangkapnya. Sejak penampilan pertamanya dalam konferensi pers di dalam Masjid al-Noor di bagian utara Jalur Gaza selama Perang Hari-Hari Kemarahan pada tahun 2004, Abu Ubaidah menempatkan dirinya dalam lingkaran ketat rahasia dan privasi. Upaya Intelijen Rezim Zionis untuk memaksanya meninggalkan pendekatan ini atau kehilangan ketenangannya tidak berhasil sama sekali.

Peran Unik Abu Ubaidah Setelah 7 Oktober

Beberapa pidato paling signifikan Abu Ubaidah disampaikan setelah operasi Hamas pada 7 Oktober 2023. Beberapa hari setelah perang dimulai, ia menyatakan bahwa perencanaan untuk Operasi 7 Oktober dimulai pada 2021, setelah perang 11 hari yang terjadi pada Mei tahun itu. Ia menambahkan bahwa sekitar 4.500 anggota Hamas ikut serta dalam operasi tersebut, yang 3.000 di antaranya berada di lapangan.

Mengenai tujuan Operasi Badai al-Aqsa, Abu Ubaidah mengumumkan bahwa salah satu tujuannya adalah menghancurkan Divisi Gaza dalam Militer Israel, yang merupakan bagian dari Komando Selatan mereka. Ia mengatakan dalam pidatonya,“Penipuan strategis, perencanaan militer, dan pelaksanaan yang mengejutkan dari operasi ini telah membuat musuh syok.” Ia juga menambahkan,“Musuh tahu bahwa ia telah menghadapi kekalahan strategis yang serius. Setelah kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menggemparkan ini, kini ia melakukan kejahatan mengerikan terhadap warga sipil tak bersalah.”

Salah satu pidato paling terkenal Abu Ubaidah terjadi ketika ia mengkritik para pemimpin Arab karena ketidakmampuan mereka untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia mengatakan, ketidakmampuan para penguasa Arab untuk mengirimkan bantuan kepada rakyat Gaza telah membuat Hamas terheran-terheran.

Bagaimana Pandangan Rezim Zionis terhadap Abu Ubaidah?

Rezim Zionis menganggap Abu Ubeida sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dan simbolis dalam gerakan Hamas. Pidato dan statemennya sering diikuti oleh publik Israel, meskipun identitas aslinya selalu terselubung dalam misteri.

Selama Perang Gaza 2014, situs web Israel Yedioth Ahronoth memublikasikan nama “Haudzaifah Samir Abdullah al-Kahlut” dan sebuah foto yang diklaim sebagai Abu Ubaidah, namun Hamas membantah laporan tersebut. Media tersebut menulis bahwa upaya untuk mengungkap identitas Abu Ubaidah bertujuan untuk menghancurkan “aura” yang terbentuk di sekitarnya, yang menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam Hamas.

Sanksi AS terhadap Abu Ubaidah

Pada April 2024, AS memberlakukan sanksi terhadap Abu Ubaidah. Washington menggambarkannya sebagai “komandan perang informasi” dalam Hamas. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa Abu Ubaidah bertanggung jawab memimpin “Unit Propaganda Siber Brigade al-Qassam.”

Meskipun suara Abu Ubaidah telah dibungkam oleh pengumuman resmi tentang syahadahnya oleh Brigade al-Qassam pada Agustus lalu, setelah serangan udara Israel terhadap rumahnya, warisannya akan tetap abadi.

Tags: