Warga Arab Berdemo di Tel Aviv Kecam Diskriminasi dan Kejahatan
POROS PERLAWANAN – Puluhan ribu warga Arab di Tel Aviv menggelar demonstrasi besar-besaran dalam aksi protes nasional yang diselenggarakan oleh Komite Pengawasan Tertinggi . Demo itu mengusung tema “Pawai Bendera Hitam Menentang Kejahatan, Kekerasan, dan Pungutan Liar.”
Fars memberitakna, demonstrasi yang dimulai di Museum Square di Tel Aviv dan berlanjut hingga Habima Square ini diselenggarakan untuk mengecam penyebaran kejahatan dan ketidakamanan di komunitas Arab, serta memprotes kelalaian Otoritas Israel dan polisi serta kolusi mereka dengan kejahatan terorganisir.
Peserta demonstrasi meneriakkan slogan-slogan dan menuduh polisi lalai dalam tugasnya. Mereka membawa bendera dan spanduk-spanduk hitam dengan slogan-slogan seperti: “Seberapa lama penghinaan dan degradasi ini akan terus berlanjut?”, “Berantas kejahatan dan kumpulkan senjata”, dan “Hentikan perang dan kejahatan”. Demonstrasi ini terjadi di tengah protes harian di komunitas Arab, yang dimulai dengan demonstrasi di kota Sakhnin dan kemudian diikuti oleh konsentrasi massa dan demonstrasi di kota-kota lain, termasuk Tel Aviv.
Kejahatan terhadap komunitas Arab yang tinggal di wilayah pendudukan di bawah kendali Zionis, protes harian yang mengecam penyebaran kejahatan ini serta protes terhadap keterlibatan dan ketidakberdayaan pejabat dan polisi Israel terus berlanjut.
Sejak awal bulan ini, 25 warga Arab telah tewas, yang terbaru adalah seorang pemuda dari Zalfa di wilayah Wadi Ara.
Di tengah keterlibatan polisi Israel dengan kejahatan terorganisir dan kegagalan mereka dalam melindungi komunitas Arab di wilayah yang diduduki (warga Palestina 1948), komunitas tersebut menyaksikan jumlah pembunuhan dan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2025, dengan 252 warga Palestina kehilangan nyawa.
Warga Palestina 1948 merupakan kelompok signifikan dari rakyat Palestina yang, pada tahun 1948, tetap tinggal di wilayah yang menjadi Israel. Berbeda dengan banyak warga Palestina yang melarikan diri atau diusir, mereka menolak untuk meninggalkan rumah mereka.
