Dokumen AS Bongkar Jejak Epstein–Barak: Palantir, AI Pengawasan, dan Mesin Perang Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, berkas terbaru yang dideklasifikasi Departemen Kehakiman Amerika Serikat kembali membuka tabir gelap di balik persilangan kekuasaan, kejahatan seksual, dan industri teknologi pengawasan global. Dokumen tersebut mengungkap bahwa Jeffrey Epstein, finansier Amerika yang tercela dan terpidana kasus perdagangan seks, pernah menyarankan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak untuk menjalin kerja sama dengan Palantir Technologies, perusahaan pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menuai kontroversi luas.
Fakta itu terungkap dari rekaman audio tahun 2013, di mana Epstein terdengar secara gamblang membicarakan Palantir dan salah satu pendirinya, Peter Thiel, kepada Barak. Dalam percakapan tersebut, Epstein menyebut Thiel sebagai figur eksentrik yang kerap dipersepsikan “aneh”, namun menegaskan bahwa Palantir adalah perusahaan besar dengan pengaruh strategis. Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan Barak ditempatkan di jajaran dewan direksi Palantir, seraya menyebut bahwa Thiel dijadwalkan berkunjung menemuinya dalam waktu dekat. Barak terdengar mengamini dan tidak menunjukkan keberatan atas pembahasan tersebut.
Pengungkapan ini memperkuat sorotan terhadap relasi panjang antara Barak dan Epstein. Setelah Epstein divonis bersalah dalam kasus kejahatan seksual pada 2008, Barak tetap mempertahankan hubungan bisnis dengannya. Pada 2015, keduanya terlibat dalam pendanaan perusahaan rintisan keamanan bernama Reporty Homeland Security yang kini dikenal sebagai Carbyne yang berfokus pada teknologi darurat dan pengawasan. Barak menjabat sebagai ketua perusahaan itu, sementara Epstein menjadi salah satu investor utamanya.
Meski Barak berulang kali berupaya mengecilkan kedekatannya dengan Epstein, arsip Departemen Kehakiman yang baru dibuka menunjukkan namanya muncul dalam lebih dari 4.000 entri. Angka ini menimbulkan pertanyaan serius tentang skala dan kedalaman relasi tersebut, terutama mengingat posisi Barak sebagai tokoh sentral dalam politik dan keamanan Israel.
Di sisi lain, Palantir sendiri bukanlah aktor netral. Perusahaan yang didirikan dengan dukungan awal dari lembaga investasi milik CIA ini telah lama memasok teknologi pengawasan dan analitik data ke Israel. Sejumlah laporan jurnalis independen dan media arus utama menyebut bahwa Israel secara signifikan meningkatkan penggunaan sistem Palantir sejak dimulainya agresi besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023. Teknologi AI Palantir dilaporkan digunakan untuk koordinasi tempur real-time, sistem penargetan otomatis, hingga praktik “polisi prediktif” yang menyasar warga Palestina.
Penggunaan teknologi tersebut tidak berhenti di Gaza. Dalam serangan Israel ke Lebanon pada September 2024, yang melibatkan ledakan mematikan melalui perangkat komunikasi seperti pager dan walkie-talkie, teknologi Palantir kembali disebut berperan. Serangan itu menewaskan sedikitnya 42 orang, termasuk dua anak dan melukai lebih dari 3.400 lainnya, banyak di antaranya dengan cedera permanen.
Keterlibatan Palantir dalam konflik bersenjata ini menuai kecaman internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese pada Juli lalu menyatakan terdapat “alasan yang masuk akal” untuk meyakini bahwa Palantir menyediakan infrastruktur inti bagi operasi militer Israel. Laporannya menuding perusahaan tersebut memfasilitasi kejahatan perang berbasis AI, mulai dari penargetan otomatis hingga pengambilan keputusan tempur tanpa akuntabilitas manusia.
Kasus ini kembali menegaskan bahaya aliansi antara elit politik, figur kriminal, dan korporasi teknologi global, sebuah aliansi yang menjadikan algoritma dan data sebagai senjata baru untuk menindas, membunuh, dan menghapus hak-hak rakyat yang terjajah.
