Badai Al-Aqsa Versi Yaman Hantui Israel
POROS PERLAWANAN — Kekhawatiran keamanan meningkat di Israel setelah laporan intelijen menyebut kemungkinan serangan pasukan Sanaa ke wilayah Eilat di Laut Merah. Situs berbahasa Ibrani, Walla mengutip pejabat keamanan Israel yang menilai skenario serangan dapat menyerupai operasi 7 Oktober yang dikenal sebagai Badai Al-Aqsa.
Mengutip Kayhan pada Rabu 18 Februari, seorang pejabat keamanan senior memperingatkan dalam pertemuan militer tertutup pekan lalu. Latihan pasukan Sanaa disebut mensimulasikan penyerangan ke permukiman dan posisi Militer Israel. “Tidak seorang pun boleh meremehkan niat dan kemampuan Houthi, dan kami sedang mempersiapkan diri sesuai dengan itu,” kata pejabat tersebut.
Perubahan dinamika keamanan regional menjadi latar meningkatnya kewaspadaan. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan tidak lagi terbatas pada front Gaza. Aktivitas Ansharullah di kawasan Laut Merah memperluas spektrum ancaman, terutama melalui pengembangan rudal jarak jauh dan drone.
Yaman dinilai memiliki posisi geografis strategis karena menguasai jalur pelayaran Bab al-Mandab. Kendali atas titik sempit perdagangan global ini memberi ruang tekanan militer dan ekonomi. Kemampuan menjangkau sasaran jauh tanpa kontak darat langsung, makin memperumit kalkulasi pertahanan Israel.
Perbedaan karakter konfrontasi juga terlihat antara Ansharullah dan Hamas. Operasi Hamas berfokus pada ruang Gaza dan perbatasan langsung. Ansharullah mengandalkan perang jarak jauh, taktik asimetris, serta jaringan komando yang terbentuk dari konflik panjang di Yaman. Kombinasi tersebut dinilai meningkatkan risiko terbukanya beberapa front sekaligus dalam satu waktu.
Sumber lembaga kajian Militer Israel menyebut potensi konflik belum berakhir. Situasi relatif tenang dinilai hanya fase sementara sebelum eskalasi regional berikutnya. Ancaman serangan darat atau laut tetap diperhitungkan dalam skenario pertahanan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pejabat Militer Israel melakukan patroli dan kunjungan lapangan di wilayah Eilat, perbatasan Yordania, serta kawasan dekat Arab Saudi. Langkah diambil untuk meninjau prosedur operasional dan memperkuat koordinasi antara Militer, Shin Bet, Mossad, Kepolisian, serta Penjaga Perbatasan.
Serangkaian latihan juga disiapkan untuk menghadapi skenario kompleks, termasuk infiltrasi melalui laut atau pergerakan dari arah Sinai menuju wilayah yang dikuasai Israel. Sumber keamanan menyebut opsi serangan balasan ke Yaman tetap terbuka jika ancaman meningkat.
Di sisi lain, dinamika politik internal Yaman ikut memanas. Anggota Biro Politik Ansharullah, Mohammed al-Farah mengkritik kembalinya sejumlah tokoh Dewan Transisi Selatan ke Arab Saudi. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan kepentingan finansial dan regional lebih dominan dibanding agenda politik yang sebelumnya dikampanyekan.
“Bencana sebenarnya terletak pada terungkapnya kebohongan yang telah digunakan selama bertahun-tahun untuk mengeksploitasi perasaan penduduk provinsi selatan Yaman”, tulis al-Farah melalui platform X.
Perkembangan lain datang dari sektor maritim. Organisasi Maritim Inggris melaporkan insiden di laut sekitar 70 mil barat daya Aden. Sejauh ini, belum ada kepastian penyebab kejadian serta kemungkinan keterkaitan dengan aktivitas militer di Kawasan.
Situasi di Laut Merah dan Yaman memperlihatkan pergeseran lanskap keamanan regional. Aktivitas militer, posisi geografis strategis, dan dinamika politik internal membentuk tekanan berlapis yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah serta jalur perdagangan global.
