Mantan Perwira CIA: Satu Kapal Induk Tenggelam, Reputasi AS Hilang
POROS PERLAWANAN — Ketegangan Amerika Serikat–Iran kembali memicu kewaspadaan di Washington. Sejumlah mantan pejabat intelijen, diplomat, dan akademisi memperingatkan risiko militer serta dampak geopolitik luas jika konflik terbuka terjadi di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Laporan Kayhan pada Kamis 19 Februari, menyoroti penilaian mantan Perwira CIA, John Kiriakou terkait kemampuan militer Iran. Kapal induk Amerika dinilai menjadi target strategis bernilai tinggi dalam skenario perang.
“Sebuah kapal induk sebesar kota dan memiliki 25.000 pelaut di dalamnya. Bayangkan konsekuensinya jika salah satu tenggelam, atau hanya rusak dan harus ditarik ke pelabuhan selama dua tahun untuk perbaikan. Saya tidak melihat hasil positif dari konflik bersenjata dengan Iran,” kata Kiriakou.
Perhatian meningkat seiring perkembangan rudal hipersonik Iran dan kerentanan aset Militer Amerika di Kawasan.
Mantan diplomat Amerika, Jennifer Gavito menilai latihan militer Iran di Selat Hormuz sebagai sinyal kekuatan untuk menekan jalur pelayaran global, terutama distribusi minyak.
“Latihan di Selat Hormuz menunjukkan kemampuan mengganggu jalur pelayaran global, terutama perdagangan minyak. Rudal Iran mampu menargetkan instalasi AS di Kawasan, Israel, dan Eropa,” ujar Gavito.
Teoretikus Hubungan Internasional, John Mearsheimer menyampaikan peringatan keras. Serangan terhadap Iran dinilai berisiko besar dan sulit dimenangkan.
“Serangan terhadap Iran adalah bencana, tidak dapat dimenangkan, dan menjadi akhir hegemoni Amerika. Israel tidak mampu menghancurkan program nuklir Iran sendirian. Serangan harus dilakukan Amerika Serikat, tetapi hasilnya tetap gagal. Fasilitas nuklir Iran kuat dan tersembunyi; serangan udara hanya menunda program beberapa bulan,” kata Mearsheimer.
Respons Iran diperkirakan meluas dan berdampak global. Penutupan Selat Hormuz, serangan terhadap pangkalan militer Amerika, serta lonjakan harga energi masuk dalam skenario eskalasi.
“Perang dengan Iran tidak dapat dimenangkan dan akan melemahkan hegemoni Amerika. Jika serangan terjadi, Iran menutup Selat Hormuz dan menargetkan pangkalan Amerika. Konflik bersifat asimetris dan menguras kekuatan. Amerika berisiko kehilangan kapal dan ekonomi global terdampak,” ujar Mearsheimer.
Analis Pertahanan BBC, Farzin Nadimi menilai ancaman Iran meningkat seiring kemajuan teknologi persenjataan.
“Ancaman Iran semakin serius dan terfokus karena kemampuan menembakkan rudal lebih canggih ke target dalam jumlah lebih besar,” kata Nadimi.
Nadimi juga menyoroti titik rawan di Teluk Persia, termasuk keberadaan dua kapal perusak dan tiga kapal penyapu ranjau di wilayah operasi.
Peringatan dari kalangan intelijen, diplomasi, dan akademisi menunjukkan satu pola: konflik langsung dengan Iran tidak hanya berdampak militer, tetapi juga mengguncang geopolitik dan ekonomi global. Selat Hormuz tetap menjadi simpul strategis yang berpotensi memicu eskalasi luas saat stabilitas Kawasan terganggu.
