Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Israel Tambah Anggaran Perang, Iran Tegaskan Siap Balas Setiap Agresi

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, di tengah memanasnya situasi Asia Barat, entitas penjajah Israel kembali mengerek eskalasi. Laporan media penyiaran resmi mereka mengungkapkan bahwa Rezim Tel Aviv tengah memburu tambahan dana miliaran Shekel untuk anggaran keamanan 2026. Tambahan ini berada di luar pagu yang sudah ditetapkan sebesar 112 miliar Shekel atau sekitar 36 miliar Dolar AS, angka yang sejak awal sudah tergolong sangat besar. Dalihnya jelas untuk persiapan menghadapi kemungkinan perang dengan Republik Islam Iran.

Serangkaian pertemuan intensif dilaporkan telah digelar antara pejabat tinggi Militer dan Kementerian Keuangan Israel guna membahas suntikan dana ekstra bagi skenario konfrontasi baru dengan Teheran. Fakta bahwa alokasi tambahan ini tidak tercantum dalam rancangan awal anggaran menunjukkan adanya lonjakan kekhawatiran di lingkaran elite keamanan Tel Aviv.

Pada Senin malam 23 Februari, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu disebut mengadakan rapat keamanan terbatas bersama para Kepala Dinas Intelijen dan Militer untuk meninjau kesiapan menghadapi potensi benturan langsung dengan Iran. Sehari sebelumnya, Kabinet keamanan politik juga bersidang selama berjam-jam guna mengevaluasi kemungkinan eskalasi militer. Langkah-langkah ini memperlihatkan bahwa opsi agresi bukan sekadar retorika, melainkan tengah dihitung secara sistematis.

Laporan dari Channel 12 bahkan menyebut bahwa Rezim Israel memandang perundingan nuklir mendatang di Jenewa sebagai “kesempatan terakhir” bagi Iran. Narasi tersebut mengisyaratkan bahwa kegagalan diplomasi akan dijadikan pembenaran untuk melangkah ke jalur militer. Di tengah tekanan yang terus ditingkatkan, Kawasan kembali dihadapkan pada ancaman instabilitas yang lebih luas.

Namun dari Teheran, respons yang muncul jauh dari kesan defensif pasif. Seorang pejabat militer senior dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya di bawah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa gagasan operasi “terbatas, cepat, dan bersih” terhadap Iran merupakan ilusi berbahaya. Menurutnya, asumsi semacam itu lahir dari penilaian keliru terhadap kapasitas pertahanan dan serangan Iran yang telah berkembang signifikan.

Ia menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Iran tidak hanya bereaksi saat serangan terjadi, tetapi memantau secara cermat setiap indikator awal ancaman. Keputusan operasional, tegasnya, akan diambil berdasarkan penilaian lapangan pada waktu yang tepat. Setiap skenario yang dibangun di atas asumsi kejutan dan pengendalian konflik diyakini berpotensi lepas kendali sejak tahap awal.

Kehadiran kapal induk Amerika Serikat dan penumpukan perangkat militer asing di Kawasan, yang kerap digembar-gemborkan sebagai simbol tekanan, juga dinilai tidak otomatis menjadi faktor pencegah. Lingkungan maritim Iran, menurut pejabat tersebut, sepenuhnya berada dalam pemantauan dan penguasaan strategis Angkatan Bersenjata Iran. Konsentrasi kekuatan asing justru disebut meningkatkan kerentanan mereka sendiri.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa berbagai upaya untuk melemahkan Iran melalui sanksi, tekanan politik, ancaman militer, maupun perang psikologis telah berulang kali gagal. Pendekatan serupa, katanya, tidak akan menghasilkan dampak berbeda di masa depan.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan memulai perang. Namun setiap ancaman terhadap keamanan nasional tidak akan dibiarkan berkembang tanpa respons.

Tags: