Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Retorika Kasar, Nalar Tumpul: Ahli Soroti Dugaan Kemerosotan Mental Donald Trump

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, di tengah memanasnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran, sorotan tajam kini mengarah pada kondisi psikologis Presiden Donald Trump. Sejumlah pakar kesehatan mental mulai mengangkat alarm atas perubahan perilaku yang dinilai semakin tidak terkendali dan berbahaya, terutama ketika keputusan-keputusan besar berada di tangannya.

Psikolog Klinis John Gartner, mantan Profesor Johns Hopkins University menyatakan bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda penurunan kognitif yang serius. Dalam pernyataannya di podcast The Daily Beast, ia menegaskan bahwa kondisi Trump bukanlah hal baru, melainkan telah terlihat sejak 2019. Namun kini, menurutnya, kemerosotan itu berlangsung jauh lebih cepat.

“Dia bukan lagi sosok yang sama seperti beberapa minggu lalu,” ujar Gartner, menggambarkan percepatan perubahan perilaku yang dinilai mengkhawatirkan. Ia menyoroti gejala yang konsisten dengan demensia frontotemporal, sebuah kondisi yang tidak hanya memengaruhi ingatan, tetapi juga mengikis kontrol diri, penilaian, serta kemampuan menahan dorongan agresif.

Dalam konteks ini, ledakan retorika Trump di media sosial menjadi bukti yang tak bisa diabaikan. Melalui platform Truth Social, Trump melontarkan ancaman kasar dan penuh amarah terhadap Iran, termasuk seruan menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan. Pernyataan tersebut, yang dipublikasikan pada momen keagamaan Paskah, dinilai banyak pihak sebagai titik nadir retorika kepresidenan.

Gartner menjelaskan bahwa penderita demensia frontotemporal cenderung kehilangan penghambatan sosial, menjadi impulsif, dan menunjukkan agresivitas yang meningkat. Kondisi ini, jika benar terjadi pada seorang Kepala Negara, membuka risiko besar bagi stabilitas global.

Kekhawatiran ini tidak datang dari satu suara saja. Analis medis dari MSNBC, Vin Gupta turut mengungkapkan penilaian serupa. Ia menyebut Trump menunjukkan pola bicara yang tidak koheren, kesulitan menyusun kalimat, hingga alur pikir yang kacau. Semua ciri tersebut merupakan indikator yang kerap dikaitkan dengan gangguan neurodegeneratif.

Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi tentang isu kesehatan tersebut. Namun, absennya klarifikasi justru memperdalam kegelisahan publik, terutama ketika ancaman militer terus meningkat tanpa persetujuan formal dari Kongres.

Di saat konflik AS-Israel terhadap Iran memasuki pekan keenam, retorika Trump semakin ekstrem, dari ultimatum pembukaan Selat Hormuz hingga ancaman penghancuran infrastruktur vital. Dalam perspektif kritis, situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar apakah dunia sedang menghadapi strategi geopolitik yang terukur, atau justru keputusan impulsif dari seorang pemimpin yang tengah mengalami kemunduran mental.

Apa pun jawabannya, konsekuensinya nyata. Ketika kekuasaan militer terbesar di dunia berada di tangan yang penilaiannya dipertanyakan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kawasan Teluk, melainkan stabilitas global secara keseluruhan.

Tags: