China Waspadai Dampak Perang Timur Tengah ke Afrika
POROS PERLAWANAN — Presiden Xi Jinping memperingatkan konflik Timur Tengah mulai menimbulkan efek lintas kawasan hingga Afrika, dan menegaskan kesiapan China memperkuat kerja sama dengan negara-negara Afrika guna menahan perluasan dampaknya.
Dalam pertemuan dengan Presiden Mozambik, Daniel Chapo di Beijing, Xi menyatakan eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas kawasan di luar Timur Tengah, termasuk Afrika yang semakin terhubung dalam rantai ekonomi global.
Mengutip laporan Fars News Agency pada Rabu 22 April, Xi menekankan pentingnya menjaga perdamaian sekaligus mendorong pembangunan bersama di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning menyebut pertemuan tersebut menegaskan posisi China dan negara-negara Afrika sebagai kekuatan penyeimbang dalam dinamika geopolitik global. Kedua pihak sepakat memperdalam hubungan menuju kemitraan strategis jangka panjang.
Xi menambahkan hubungan Beijing–Maputo akan ditingkatkan menjadi kemitraan dengan visi “masa depan bersama”, dengan fokus pada stabilitas, pembangunan ekonomi, dan kerja sama saling menguntungkan.
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya rivalitas global antara China dan Amerika Serikat yang semakin meluas ke Afrika, kawasan yang kini menjadi arena baru persaingan pengaruh ekonomi dan politik.
Presiden Mozambik melakukan kunjungan resmi ke China pekan lalu. Data bea cukai China mencatat nilai perdagangan bilateral mencapai 5,4 miliar Dolar AS pada 2025.
Di saat yang sama, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di satu sisi serta Iran di sisi lain terus memicu kekhawatiran global. Penutupan Selat Hormuz sempat mendorong lonjakan harga minyak dan pangan dunia, sekaligus meningkatkan risiko rambatan krisis ke kawasan lain, termasuk Afrika.
Peringatan Beijing mencerminkan kalkulasi strategis: Afrika bukan lagi sebagai mitra ekonomi, melainkan garis depan baru stabilitas global. Jika konflik Timur Tengah terus melebar, dampaknya bukan hanya energi dan logistik, melainkan juga keamanan dan politik di kawasan yang selama ini menjadi target ekspansi pengaruh kekuatan besar.
