Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Baku Sindir Antarpemimpin AS–Eropa Menguat Pascaperang Ramadan

POROS PERLAWANAN — Hubungan Amerika Serikat dan Eropa memasuki fase tegang setelah perang Ramadan (perang yang dipaksakan AS-Israel terhadap Iran pada awal Ramadan lalu). Saling sindir para pemimpin mengemuka, bersamaan dengan meningkatnya isolasi internasional Washington.

Perang Ramadan memicu perubahan signifikan dalam lanskap global. Salah satu dampak paling nyata terlihat pada memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Eropa, yang kini menunjukkan celah semakin lebar dalam berbagai isu strategis.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berupaya menampilkan citra kuat, justru menghadapi kritik terbuka dari pejabat Eropa. Dalam kunjungan ke Washington, Raja Inggris Charles III melontarkan sindiran bahwa tanpa peran Inggris, warga Amerika kemungkinan masih akan berbicara bahasa Prancis.

Pernyataan tersebut menjadi respons atas klaim Trump sebelumnya yang menyebut tanpa intervensi Amerika dalam Perang Dunia II, bangsa Eropa akan menggunakan bahasa Jerman atau Jepang. Pertukaran pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang melampaui sekadar retorika.

Perbedaan sikap tentang perang Ramadan menjadi pemicu utama. Negara-negara Eropa, termasuk Inggris, menolak mendukung langkah Amerika, terutama dalam rencana membuka Selat Hormuz. Bahkan jika Inggris terlibat, langkah tersebut dinilai tidak akan mengubah situasi karena kawasan itu berada dalam kendali Iran.

Dari Berlin, Kanselir Friedrich Merz menyatakan Iran telah mempermalukan Amerika Serikat. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Trump, yang menilai Merz tidak memahami persoalan yang dibicarakannya.

Seiring meningkatnya ketegangan, Jerman dilaporkan mulai mempersiapkan kemungkinan berkurangnya kehadiran Militer Amerika di wilayahnya. Langkah ini menunjukkan pergeseran menuju kebijakan pertahanan yang lebih mandiri.

Di tengah tekanan tersebut, Trump merespons dengan langkah simbolik, termasuk menyebarkan citra bergaya film aksi hasil kecerdasan buatan yang menampilkan dirinya bersenjata, serta menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump”.

Namun laporan Al Jazeera menunjukkan kondisi berbeda. Trump disebut menghadapi krisis serius di dalam dan luar negeri. Sejumlah negara menuntut kesepakatan untuk mengatasi krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz, sementara posisi Amerika semakin terisolasi.

Di dalam negeri, dukungan terhadap Israel dilaporkan menurun. Partai Republik juga diperkirakan menghadapi risiko kehilangan mayoritas di parlemen dalam Pemilu sela mendatang.

Kritik dan sindiran dari para pejabat Eropa mengirimkan sinyal jelas mengenai melemahnya pengaruh Amerika. Sebelum perang Ramadan, Eropa cenderung pasif terhadap tekanan Washington. Kini, sikap tersebut berubah menjadi lebih terbuka dan konfrontatif.

Hubungan Amerika dan Eropa saat ini menyerupai kemitraan lama yang mulai retak. Ketegangan yang sebelumnya bersifat politis kini bergerak menuju perubahan nyata dalam praktik hubungan internasional.

Perang Ramadan menjadi katalis yang mempercepat pergeseran tersebut dan menandai perubahan dalam keseimbangan kekuatan global.

Tags: