Ehud Barak: Netanyahu Bisa Picu Perang Baru demi Selamatkan Karier Politik
POROS PERLAWANAN — Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak memperingatkan bahwa Benyamin Netanyahu dapat mengambil langkah ekstrem untuk menyelamatkan diri dari krisis politik dan kasus hukum yang membelitnya, termasuk memicu perang baru atau menunda Pemilu mendatang.
Menurut laporan Mehr News Agency pada Rabu 13 Mei yang mengutip media Al Shorouk, Barak menggambarkan Netanyahu seperti “hewan yang terjebak dalam perangkap” dan siap menyeret Israel ke situasi yang lebih berbahaya demi mempertahankan kekuasaan politiknya.
Barak mengatakan Netanyahu berpotensi mengganggu jalannya Pemilu Knesset pada Oktober mendatang apabila merasa terancam kalah dari oposisi. Menurut dia, skenario keadaan darurat dapat digunakan untuk menghentikan atau menunda proses pemungutan suara.
“Jika beberapa hari sebelum Pemilu Netanyahu yakin akan kalah, bukan tidak mungkin dia membuka front baru melawan Iran, Gaza, atau Tepi Barat untuk menciptakan situasi darurat dan menunda Pemilu selama enam bulan,” ujar Barak.
Ia juga menyinggung kemungkinan munculnya skenario keamanan mendadak yang sengaja dimanfaatkan untuk memengaruhi opini publik menjelang Pemilu.
“Saya tidak akan terkejut jika lima hari sebelum Pemilu tiba-tiba muncul berita tentang ‘bom waktu’ di Iran yang kemudian memicu gelombang baru serangan terhadap Iran, perang baru melawan Hamas, atau pecahnya Intifada ketiga di Tepi Barat,” katanya.
Barak turut menuduh kubu Netanyahu berpotensi menggunakan video palsu dan propaganda digital untuk merusak citra lawan politik pada malam Pemilu. Ia bahkan membandingkan kemungkinan itu dengan penyerbuan Gedung Kongres Amerika Serikat oleh pendukung Donald Trump pada Januari 2021.
Menurut Barak, kelompok garis keras pendukung Netanyahu juga dapat menciptakan kekacauan di lokasi penghitungan suara di Al-Quds guna menggugat legitimasi hasil Pemilu dan membuka jalan bagi pembatalan hasil akhir.
Mantan Perdana Menteri Israel itu juga menyoroti krisis legitimasi Netanyahu di tingkat internasional. Barak menyebut banyak pengamat meyakini Netanyahu sengaja menggagalkan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Lebanon serta memperpanjang perang di Gaza demi mempertahankan kelangsungan politik pribadinya.
Barak kemudian menyatakan dukungan terhadap sejumlah tokoh oposisi seperti Naftali Bennett, Yair Lapid, Avigdor Lieberman, Gadi Eisenkot, dan Yair Golan sebagai alternatif yang lebih layak dibanding Rezim Netanyahu saat ini.
Berdasarkan survei terbaru lembaga Lazar, koalisi oposisi dan partai baru “Maa” disebut memiliki peluang besar mengalahkan Partai Likud dalam Pemilu mendatang.
Dalam sistem politik Israel, perdana menteri tidak dipilih langsung oleh pemilih. Jabatan tersebut diberikan kepada figur yang mampu membentuk koalisi pemerintahan dengan dukungan sedikitnya 61 anggota Knesset.
