Araghchi di BRICS: Iran Tak Akan Pernah Tunduk pada Tekanan dan Ancaman
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan maupun ancaman asing. Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam pertemuan para menteri luar negeri negara anggota BRICS di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026), sebagaimana dilaporkan Fars News Agency.
Dalam pidatonya, Araghchi menegaskan tidak ada solusi militer untuk persoalan yang berkaitan dengan Iran dan menyatakan Republik Islam akan selalu memberikan respons terhadap setiap bentuk tekanan eksternal.
“Iran tidak terkalahkan. Setiap kali berada di bawah tekanan, kami justru tampil lebih kuat dan lebih bersatu,” kata Araghchi di hadapan forum BRICS.
Ia menyebut Iran dalam kurun kurang dari satu tahun telah dua kali menjadi sasaran agresi ilegal dan brutal oleh Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, serangan terhadap Iran dibangun di atas tuduhan-tuduhan palsu yang bahkan bertentangan dengan penilaian International Atomic Energy Agency serta laporan intelijen Amerika Serikat sendiri.
Araghchi menilai Iran menjadi korban ekspansionisme ilegal dan perang yang dipaksakan terhadap negara-negara independen.
“Ketidakstabilan regional adalah situasi kalah-kalah bagi semua pihak, termasuk bagi para agresor itu sendiri,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Araghchi menegaskan rakyat Iran tidak pernah menyerah terhadap tekanan kekuatan besar dunia dan tetap mempertahankan prinsip kemerdekaan nasional.
“Apakah kami mundur dari cita-cita kemerdekaan kami? Apakah kami tunduk pada kehendak kekuatan hegemonik? Jawabannya jelas. Kami tidak pernah melakukannya dan tidak akan pernah melakukannya,” katanya.
Ia juga memuji ketahanan rakyat Iran selama perang, termasuk tenaga medis, aparat keamanan, guru, dan warga sipil yang tetap bertahan di tengah serangan.
Menurut Araghchi, bangsa Iran memilih tetap berdiri di bawah pemboman dan tidak menyerahkan masa depan mereka kepada perang maupun tekanan asing.
“Saat ini dunia harus memahami bahwa Iran tidak dapat dikalahkan,” tegasnya.
Araghchi menyatakan Iran siap mempertahankan wilayah dan kebebasannya dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, namun pada saat yang sama tetap membuka ruang bagi diplomasi.
“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan tekanan dan ancaman, tetapi kami menjawab bahasa hormat dengan penghormatan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Araghchi juga melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Barat yang disebutnya berupaya mempertahankan dominasi global di tengah kemunduran kekuatan imperialisme.
Ia menyebut BRICS sebagai simbol lahirnya tatanan dunia baru, ketika negara-negara Global South mulai tampil sebagai salah satu arsitek utama masa depan dunia.
Menurutnya, kekuatan-kekuatan imperialis yang sedang melemah kini bereaksi agresif demi mempertahankan dominasi global mereka.
Araghchi menilai perjuangan Iran bukan hanya menyangkut kepentingan nasional, tetapi juga bagian dari perlawanan terhadap hegemoni Barat dan dominasi Amerika Serikat.
“Iran meminta negara-negara BRICS dan seluruh anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab untuk secara tegas mengutuk pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat dan Israel,” katanya.
Ia juga menyerukan penghentian politisasi lembaga internasional serta langkah konkret untuk mengakhiri perang dan impunitas terhadap pelanggaran Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di akhir pidatonya, Araghchi menegaskan bahwa BRICS harus menjadi salah satu pilar utama dalam pembentukan tatanan global yang lebih adil, seimbang, dan manusiawi.
“Bangsa-bangsa yang berdiri demi kehormatan dan kemerdekaannya mungkin menghadapi banyak penderitaan, tetapi mereka tidak akan pernah kalah,” ujarnya.
