Iran: AS dan Israel Harus Cari Jalan Keluar dari ‘Rawa Perang’ yang Mereka Ciptakan
POROS PERLAWANAN — Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel harus bertanggung jawab atas perang yang mereka mulai sendiri serta mencari jalan keluar dari konflik yang kini dinilai berubah menjadi “rawa strategis” bagi Washington dan Tel Aviv.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, di tengah meningkatnya ketegangan regional dan ancaman berlanjutnya konfrontasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan Press TV, dalam wawancara dengan harian Brasil Folha de Sao Paulo yang dipublikasikan Rabu 20 Mei, Baghaei menegaskan Iran tidak memiliki kewajiban membantu pihak yang memulai agresi militer untuk keluar dari konflik yang mereka ciptakan sendiri.
“Mereka yang memulai perang ini. Kami hanya membela Tanah Air kami,” kata Baghaei.
Teheran menilai seluruh dalih Washington untuk menyerang Iran tidak memiliki legitimasi hukum maupun dasar faktual yang dapat dipertanggungjawabkan. Serangan udara yang dimulai pada 28 Februari 2026 disebut Iran sebagai agresi sepihak tanpa provokasi langsung dari Teheran.
Baghaei juga menilai opini publik Amerika Serikat mulai berubah setelah perang berkepanjangan memunculkan tekanan politik dan ekonomi di dalam negeri. Menurutnya, semakin banyak warga Amerika menyadari bahwa Washington terseret ke dalam konflik demi kepentingan politik Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dan lingkaran Kabinet Perangnya.
“Publik Amerika perlahan memahami bahwa negara mereka diseret ke perang ini oleh Benyamin Netanyahu dan anggota Kabinet Perangnya. Mereka seharusnya meminta pertanggungjawaban Pemerintah mereka sendiri,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Baghaei turut menyinggung serangan terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab yang menurut Iran menewaskan lebih dari 170 warga sipil.
“Apa yang mereka lakukan di Minab, pembantaian di sekolah dasar itu, hanyalah satu contoh dari tindakan brutal mereka terhadap Iran. Dengan alasan apa perang ini dilakukan? Semua dalih mereka tidak berdasar,” katanya.
Menurut Baghaei, Washington mula-mula menggunakan narasi ancaman Iran untuk membenarkan perang, kemudian berlindung di balik klaim membela diri, meski tidak pernah terjadi serangan bersenjata Iran terhadap Amerika Serikat sebelum konflik pecah.
“Tidak pernah ada permusuhan antara rakyat Iran dan rakyat Amerika. Apa yang dilakukan Pemerintah mereka adalah agresi terang-terangan yang dijalankan demi kepentingan Israel dan pihak lain,” ujarnya.
Teheran juga memperingatkan bahwa semakin lama Washington bertahan dalam konflik tersebut, semakin besar dampak politik dan strategis yang harus ditanggung Amerika Serikat.
“Semakin cepat mereka keluar dari rawa perang ini, semakin baik bagi masa depan mereka sendiri dan bagi komunitas internasional,” kata Baghaei.
Dalam isu Selat Hormuz, Iran menegaskan tengah bekerja sama dengan Oman untuk menyusun mekanisme pelayaran aman tanpa mengorbankan kepentingan keamanan nasional Teheran.
Sebagai salah satu jalur energi terpenting dunia, Selat Hormuz memiliki posisi vital bagi ekspor dan impor Iran. Karena itu, Teheran menilai keamanan Kawasan tidak dapat dipisahkan dari kepentingan kedaulatan nasionalnya.
Namun Baghaei menegaskan negara-negara yang terlibat dalam agresi terhadap Iran tidak bisa berharap memperoleh akses bebas tanpa konsekuensi politik dan keamanan.
“Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara pendukung agresi tidak bisa begitu saja mendapat izin melintas di Selat Hormuz ketika tindakan mereka mengancam kedaulatan dan keamanan nasional Iran,” ujarnya.
Baghaei juga menyebut Washington terus melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional, termasuk melalui blokade laut terhadap Iran yang menurut Teheran dapat dikategorikan sebagai bentuk agresi berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 3314.
“Blokade laut saja sudah termasuk tindakan agresi,” katanya.
Meski gencatan senjata masih berlangsung, Iran memastikan seluruh kekuatan militernya tetap berada dalam kondisi siaga penuh menghadapi kemungkinan eskalasi baru.
“Saya yakin Angkatan Bersenjata kami akan merespons secara langsung dan penuh terhadap setiap petualangan baru Amerika dan Israel,” ujar Baghaei.
Menutup pernyataannya, Baghaei menegaskan Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi tekanan dan perang asing, termasuk selama perang delapan tahun pada dekade 1980-an ketika Irak mendapat dukungan luas dari negara-negara Barat.
“Kami kuat dan bertekad mempertahankan Tanah Air kami. Itu yang kami lakukan selama setahun terakhir dan akan terus kami lakukan,” katanya.
