Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Analisis CSIS: Persediaan Rudal AS Diperkirakan Pulih Bertahun-tahun Pascaperang Iran

POROS PERLAWANAN — Persediaan sejumlah rudal strategis Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali ke level sebelum perang setelah terkuras selama konflik 40 hari melawan Iran. Kondisi itu dinilai menciptakan celah kerentanan militer Washington apabila kembali menghadapi konflik besar, terutama di kawasan Pasifik Barat.

Laporan tersebut diungkap lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington dalam analisis yang dipublikasikan pada Rabu (27/5/2026).

Dalam laporannya, CSIS menyebut pemulihan stok sejumlah sistem persenjataan utama Amerika Serikat memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, bergantung pada jenis senjata dan kapasitas produksi industri pertahanan.

Rudal jelajah Tomahawk, sistem pencegat THAAD, dan rudal pertahanan udara Patriot diperkirakan baru dapat kembali ke tingkat persediaan sebelum perang setidaknya dalam tiga tahun ke depan.

CSIS memperkirakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk digunakan selama konflik berlangsung. Namun, pemulihan stok diproyeksikan baru tercapai pada akhir 2030 hingga awal 2031.

Meski Angkatan Laut Amerika Serikat telah mengajukan pengadaan 785 rudal Tomahawk dalam anggaran tahun fiskal 2027, pengiriman diperkirakan baru dimulai pada Maret 2030 karena proses produksi membutuhkan waktu sekitar 34 bulan.

Selain itu, sebanyak 190 hingga 290 sistem pencegat THAAD dan sekitar 1.060 hingga 1.430 rudal Patriot disebut telah digunakan selama perang. Pengiriman pengadaan baru untuk sistem tersebut diperkirakan baru dimulai pada 2029.

CSIS juga menyoroti tingginya permintaan persenjataan dari Ukraina dan sejumlah sekutu Amerika Serikat yang dinilai memperumit proses pemulihan stok.

Sejak 2020, negara-negara sekutu Washington disebut telah membeli hampir 1.900 sistem pencegat PAC-3 Patriot Advanced Capability-3, termasuk Arab Saudi, Jerman, dan Qatar.

Sementara itu, sistem rudal berbasis kapal seperti SM-3 dan SM-6 diperkirakan dapat kembali ke tingkat persediaan sebelum perang pada awal 2029 karena penggunaannya selama konflik dinilai tidak sebesar sistem lainnya.

Dua sistem persenjataan disebut memiliki waktu pemulihan lebih cepat, yakni Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) dan Precision Strike Missile (PrSM).

CSIS memperkirakan lebih dari 1.100 rudal JASSM digunakan selama perang, tetapi stoknya diproyeksikan dapat pulih pada pertengahan 2027 berkat kapasitas produksi yang sudah tersedia.

Sementara itu, stok rudal PrSM diperkirakan kembali normal pada akhir 2026 mengingat produksi penuh sistem tersebut baru dimulai dalam beberapa waktu terakhir.

“Masalah utama saat ini bukan uang, melainkan waktu. Dibutuhkan waktu untuk memperluas kapasitas produksi dan membangun sistem persenjataan yang kompleks,” tulis laporan CSIS.

Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebelumnya berlangsung selama 40 hari dan diwarnai serangan terhadap berbagai target strategis di kawasan.

Dalam konflik tersebut, Iran melancarkan lebih dari 100 gelombang serangan balasan terhadap target Amerika Serikat dan Israel. Tehran juga sempat menutup Selat Hormuz bagi negara-negara yang dianggap sebagai musuh dan sekutunya, langkah yang memicu gejolak pasar energi global dan lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Tags: