Menjual Kemenangan di Selat Hormuz
Ketika Washington berusaha mengubah kebuntuan geopolitik menjadi pertunjukan superioritas global.
POROS PERLAWANAN — Donald Trump kembali tampil sebagai sutradara utama dalam serial panjang berjudul America Still Thinks It Runs The World. Episode terbaru kali ini cukup lengkap. Ada ancaman, ada diplomasi, ada rudal, ada Selat Hormuz, dan tentu saja ada klaim kemenangan yang diumumkan bahkan sebelum pertandingan selesai dimainkan. Gedung Putih, seperti biasa, ingin dunia percaya bahwa semuanya terkendali, padahal suara-suara dari dalam mesin kekuasaannya sendiri terdengar saling bertabrakan.
Trump mengumumkan bahwa Iran “hampir” menyetujui berbagai tuntutan Amerika. Tehran disebut akan tunduk soal nuklir. Selat Hormuz diklaim segera normal kembali. Jalur perdagangan disebut aman. Dunia, sekali lagi, digambarkan berada di ambang penyelamatan besar oleh Washington. Satu-satunya masalah kecil hanyalah kenyataan. Sumber-sumber Iran segera membantah sebagian besar narasi tersebut dan menyebutnya sebagai campuran antara fakta dan khayalan politik. Sebuah istilah diplomatik yang sebenarnya cukup sopan untuk mengatakan bahwa Washington sedang menjual kemenangan yang bahkan belum sempat diproduksi.
Namun memang demikianlah cara kerja politik luar negeri Amerika modern. Jika realitas belum mendukung kemenangan, maka kemenangan cukup diumumkan lebih dahulu dan detailnya bisa disesuaikan belakangan. Persis seperti trailer film Hollywood yang terlihat megah di layar depan, sementara alur ceritanya sendiri belum tentu selesai ditulis.
Trump berbicara tentang pembukaan Selat Hormuz seolah kawasan paling sensitif di dunia itu hanyalah gerbang logistik yang tinggal diaktifkan dari Ruang Situasi Gedung Putih. Padahal hampir semua analis militer serius memahami satu kenyataan pahit bahwa Amerika mungkin mampu mengirim kapal induk ke mana saja, tetapi mereka tetap tidak mampu memindahkan letak geografis Iran. Dan justru di situlah seluruh persoalan bermula.
Selama republik Islam itu masih berdiri di titik yang sama di peta dunia, maka semua pidato kemenangan Washington terdengar seperti presentasi optimistis perusahaan yang sedang berusaha menenangkan investor panik. Selat Hormuz bukan hanya jalur laut. Selat Hormuz adalah pengingat permanen bahwa geografi kadang lebih menentukan daripada superioritas teknologi.
Ironisnya, semakin keras Gedung Putih mengklaim mengendalikan situasi, semakin terlihat bahwa mereka justru sedang kehilangan kendali atas narasi. Wakil Presiden JD Vance bahkan mengakui situasi gencatan senjata “berantakan”. Sebuah pengakuan yang terdengar seperti catatan evaluasi internal perusahaan raksasa, bukan pernyataan dari negara dengan anggaran militer terbesar dalam sejarah manusia. Komandan lapangan tidak sinkron. Serangan terus terjadi. Tehran membalas. Lalu konferensi pers kembali digelar untuk menjelaskan bahwa semuanya masih berada dalam kendali.
Agaknya dunia memang diminta tetap tenang. Sebab menurut Washington, kekacauan regional berskala internasional rupanya masih dapat dikategorikan sebagai persoalan koordinasi.
Sementara itu, Iran memainkan permainan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih efektif. Tehran tidak perlu mengklaim kemenangan setiap beberapa jam di media sosial. Mereka hanya perlu memastikan satu hal bahwa Amerika tidak pernah benar-benar merasa aman di Teluk Persia, dan sejauh ini strategi itu bekerja cukup baik. Di balik seluruh jargon tentang stabilitas global, imperium modern tersebut sebenarnya sedang berhadapan dengan kenyataan yang sangat tidak nyaman bahwa kekuatan militer raksasa tidak otomatis menghasilkan kontrol politik mutlak.
Amerika bisa menghancurkan fasilitas, pangkalan, bahkan kota. Tetapi membungkam pembangkangan geopolitik ternyata bukan urusan yang dapat diselesaikan dengan kapal induk dan konferensi pers. Afghanistan sudah mengajarkan itu. Irak sudah mengajarkan itu. Namun sebagian elite di Washington tampaknya masih percaya bahwa kegagalan yang diulang berkali-kali lambat laun akan berubah menjadi strategi yang meyakinkan.
Di titik inilah konflik Hormuz mulai terlihat seperti metafora sempurna tentang kemunduran psikologis sebuah imperium. Negara adidaya itu masih memiliki senjata paling canggih, armada terbesar, dan jaringan pangkalan global yang luas. Tetapi setiap kali krisis muncul, responsnya semakin menyerupai mesin propaganda yang sibuk menjaga citra sambil berharap dunia tidak terlalu memperhatikan kekacauan di belakang panggung.
Karena itu Trump membutuhkan “kemenangan”. Bukan kemenangan nyata, melainkan kemenangan yang cukup baik untuk headline media, cukup dramatis untuk konsumsi domestik, dan cukup kabur agar tidak perlu diverifikasi terlalu rinci. Masalahnya, Timur Tengah bukan studio reality show. Kawasan ini sudah terlalu sering mendengar deklarasi kemenangan Washington yang pada akhirnya berubah menjadi arsip panjang kegagalan strategis.
Dulu Amerika berbicara tentang demokrasi baru di Irak. Tentang stabilitas Afghanistan. Tentang keamanan permanen di Teluk Persia. Hasil akhirnya justru menyerupai proyek renovasi tanpa ujung yang setiap tahun diresmikan ulang karena tidak pernah benar-benar selesai.
Kini Selat Hormuz menjadi panggung terbaru dari ilusi lama tersebut. Washington ingin tampil sebagai pengendali jalur energi global, tetapi bahkan sejumlah analis Barat mulai mengakui bahwa Iran memegang “kartu emas” strategis di kawasan itu sebab geografi ternyata jauh lebih keras kepala daripada propaganda.
Tehran memahami sesuatu yang sering gagal dipahami Amerika bahwa dalam konflik asimetris modern, bertahan saja sudah cukup untuk merusak narasi superioritas lawan. Iran tidak perlu menaklukkan Amerika. Mereka hanya perlu memastikan Amerika tidak pernah benar-benar bisa menaklukkan mereka, dan itulah bagian paling menyakitkan bagi sebuah negara yang terlalu lama terbiasa mendeklarasikan dirinya sebagai polisi dunia.
Karena itu, seluruh retorika tentang “kesepakatan besar” ini mungkin bukan tanda kemenangan Washington. Bisa jadi justru tanda kepanikan yang mulai dibungkus dengan bahasa diplomatik dan dipoles menjadi pertunjukan optimisme politik.
Dalam politik global modern, kekuatan terbesar bukan lagi pihak yang paling mampu memenangkan perang, melainkan pihak yang paling mampu mendeklarasikan kemenangan sebelum perang itu sendiri selesai. Dan untuk sementara, Washington tampaknya masih berharap dunia kesulitan membedakan keduanya.
