Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Data dan Fakta Patahkan Klaim Trump Soal Lolosnya Kapal-kapal Tanker dari Selat Hormuz tanpa Sepengetahuan Iran

POROS PERLAWANAN – Presiden AS, Donald Trump mengeklaim bahwa Militer AS berhasil “menyelundupkan lebih dari 100 juta barel minyak dan ratusan kapal dagang melewati Selat Hormuz tanpa sepengetahuan Iran”. Namun, laporan data pelayaran, pernyataan pejabat AS, serta analisis media menunjukkan klaim tersebut tidak sesuai dengan kenyataan lapangan.

Fars memberitakan Trump menyebut bahwa dalam sebuah operasi rahasia, Militer AS mengawal 22 kapal di malam hari tanpa menyalakan lampu. Total lebih dari 200 kapal dagang berhasil melintas dengan aman. Ia bahkan menegaskan bahwa AS, bukan Iran, yang menguasai Selat Hormuz. Trump juga mengeklaim bahwa ekonomi dan militer Iran dalam kondisi kalah.

Fakta di Lapangan

Selat Hormuz adalah jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% energi dunia. Sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran, lalu lintas kapal di jalur ini menurun drastis. Iran sempat menghentikan seluruh kapal, lalu melarang kapal yang terkait dengan pihak lawan. Sementara itu, AS memberlakukan blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Kondisi ini membuat jumlah kapal yang bisa melintas jauh berkurang.

Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz. Klaim Trump soal 100 juta barel setara dengan lima hari lalu lintas normal sebelum perang. Namun, data perusahaan pelacakan kapal menunjukkan angka jauh lebih kecil: Windward mencatat 80 kapal dalam lima minggu, Lloyd’s List 142 kapal sejak Maret, dan Kepler 264 kapal. Bahkan angka tertinggi itu pun tidak mendekati klaim Trump.

Menariknya, para pejabat AS sendiri tidak sepenuhnya mendukung klaim Trump. Menteri Energi, Chris Wright menyatakan bahwa dia tidak tahu soal operasi rahasia dengan jutaan barel minyak, meski dia mengeklaim ada bantuan militer untuk beberapa kapal non-Iran. Media seperti CNN juga melaporkan bahwa banyak kapal justru melintas dengan izin resmi dari Iran. Bahkan beberapa negara seperti India, Pakistan, dan Rusia melakukan negosiasi langsung dengan Teheran.

Fakta lain menunjukkan Iran tetap punya kendali besar atas Selat Hormuz. Ketika Trump meluncurkan operasi “Proyek Kebebasan”, berbagai perusahaan pelayaran dan asuransi menolak mengandalkan klaim AS semata. Mereka menegaskan bahwa hanya kesepakatan dengan Iran yang bisa menjamin keamanan. Akibatnya, operasi “pembebasan” ala Trump tersebut dihentikan hanya 36 jam setelah diumumkan.

Para pengamat menilai bahwa klaim Trump yang tidak sesuai data dan fakta di lapangan lebih merupakan bagian dari perang psikologis untuk mengendalikan harga minyak dan pasar energi global. Pesan-pesan tentang “menguasai Selat Hormuz” atau “mengalahkan Iran” ditujukan bukan kepada Militer Iran atau publik AS, melainkan kepada pelaku pasar: trader minyak, manajer investasi, perusahaan asuransi, dan pelaku bisnis energi di pusat-pusat keuangan dunia.