Trump Kembali Akui Terpaksa Jalin Kesepakatan dengan Iran
POROS PERLAWANAN – Menyusul tercapainya nota kesepahaman dengan Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengakui bahwa ia tidak memiliki pilihan yang lebih baik.
Diberitakan Fars, pada hari Jumat 19 Juni Trump untuk kedua kalinya menjelaskan mengapa ia tidak memiliki pilihan selain melakukan kesepakatan dengan Iran. Dalam sebuah wawancara dengan situs Axios, ia menegaskan bahwa “mengebom Iran tidak akan memberikan manfaat bagi AS maupun dunia. Juga tidak akan menyebabkan dibukanya kembali Selat Hormuz.”
“Trump dalam wawancara ini mengakui bahwa berbagai alternatif dari kesepakatan tersebut bisa memperburuk situasi,” tulis Axios.
Menurut Axios, Trump merasa kesal dengan anggapan kritikus perang yang bertanya mengapa ia tidak bersikap lebih keras terhadap Iran. “Satu-satunya cara agar saya bisa lebih keras adalah dengan pergi ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus mengebom mereka. Benar bukan? Tapi apa hasilnya bagi kita? Selat Hormuz tidak akan terbuka,” ujarnya.
“Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan. Selama Anda menjatuhkan bom, selat itu akan tertutup secara otomatis. Inilah yang bisa menyebabkan resesi global.”
Mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, Axios menulis bahwa Trump dalam lingkungan pribadi telah menyatakan kekhawatirannya tentang cadangan minyak dunia yang hampir habis. Dia mengatakan bahwa jika selat itu tetap tertutup, guncangan minyak global bisa terjadi.
Trump, yang beberapa waktu lalu mengeklaim bahwa “Selat Hormuz berada di bawah kendali AS, bukan Iran”, dua hari lalu membela kesepemahaman yang dicapai dengan Teheran. Ia juga mengakui kebuntuan yang diciptakan oleh perang melawan Iran bagi dirinya.
Pada hari Rabu, dalam pidato penutupnya di sela-sela KTT G7 di Prancis, ia secara eksplisit mengatakan, dirinya tidak memiliki pilihan lain selain kesepakatan dengan Iran, karena cadangan minyak dunia akan habis dalam 4 minggu ke depan. Tidak ada lagi pilihan lain.
“Jika saya melakukan hal lain, yaitu pergi dan terus mengebom mereka… tidak ada yang bisa saya lakukan. Namun hal yang dilakukan oleh [kesepakatan] ini adalah mengizinkan kapal-kapal untuk lewat.”
“Jika kita terus mengebom, kapal-kapal tidak akan bergerak. Kita berbicara tentang 500, 600, atau 700 juta Dolar per hari. Itu jumlah uang yang sangat besar. Itulah sebabnya dunia puas.”
“Cadangan [minyak] kita juga akan habis dalam 4 minggu. Seperti yang Anda ketahui, ada cadangan di seluruh dunia dan itu akan segera habis.”
Pengakuan Trump ini muncul dalam situasi di mana ia sebelumnya pada tanggal 20 Juni mengatakan bahwa AS, bukan Iran, yang mengendalikan Selat Hormuz. Ia juga mengeklaim, AS telah berhasil “meloloskan jutaan barel minyak melalui Selat Hormuz dalam sebuah operasi rahasia”.
Di hari yang sama, melalui jejaring sosial Truth Social, Trump juga mengulangi klaim ini. Ia mencuit bahwa bulan lalu ia telah memerintahkan Militer AS untuk melaksanakan “misi rahasia” guna melindungi kapal tanker minyak dan kapal komersial di Selat Hormuz.
Trump bahkan melangkah lebih jauh. Ia mengumumkan bahwa sebagai hasil dari operasi ini, lebih dari 100 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dan lebih dari 200 kapal komersial telah melewati jalur strategis ini dengan keamanan penuh. Namun, data menunjukkan bahwa angka yang dikemukakan oleh Trump tidak konsisten dengan data yang ada.
