Provokasi AS di Selat Hormuz Akan Dijawab dengan Respons Cepat dan Tegas
POROS PERLAWANAN – Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan provokatif di Selat Hormuz. Setiap upaya yang mengganggu stabilitas di jalur pelayaran strategis tersebut, menurutnya, akan dijawab dengan respons yang cepat dan tegas.
Dalam keterangannya kepada Press TV, pada Selasa 7 Juli, pejabat tersebut menegaskan bahwa lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz saat ini berlangsung sepenuhnya sesuai dengan pengaturan yang ditetapkan oleh Iran.
Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal dilaporkan melintasi jalur tersebut tanpa mematuhi prosedur navigasi yang ditetapkan otoritas Iran. Beberapa di antaranya juga dilaporkan mengalami serangan.
Iran mulai memberlakukan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut.
Konflik kemudian meluas dengan adanya serangan yang, menurut Iran, berasal dari sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong Teheran memperketat pengawasan terhadap lalu lintas maritim di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Menurut sumber tersebut, Iran dan Amerika Serikat telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan itu memuat komitmen untuk mengakhiri permusuhan secara permanen di seluruh medan konflik serta melanjutkan perundingan menuju kesepakatan final dalam jangka waktu 60 hari.
Dalam nota kesepahaman yang terdiri atas 14 poin tersebut, Iran berkewajiban menjamin pelayaran bebas biaya bagi kapal-kapal niaga selama sedikitnya 60 hari serta memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz secara penuh dalam waktu 30 hari.
Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali pada kondisi sebelum perang. Iran juga menekankan hak kedaulatannya untuk mengatur lalu lintas pelayaran di perairan tersebut.
Pemerintah Iran berulang kali menyatakan bahwa seluruh kapal tanker minyak dan kapal niaga yang hendak melintasi Selat Hormuz wajib mengikuti rute yang telah ditetapkan otoritas Iran serta mematuhi seluruh prosedur navigasi yang berlaku.
Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi menegaskan kembali posisi Teheran dengan menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran, bukan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah CENTCOM menggelar dialog keamanan maritim di Bahrain bersama para pejabat militer dari 12 negara untuk membahas keamanan pelayaran dan kelancaran arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
