Dari Visa hingga Perwasitan, Politik Trump yang Paling Menang di Piala Dunia
POROS PERLAWANAN — Piala Dunia 2026 akhirnya sampai di partai final. Namun sebelum trofi menemukan pemiliknya, turnamen ini sudah lebih dulu memiliki juara lain, yaitu politik.
Laporan Agence France-Presse (AFP) pada Sabtu (18/7/2026) menunjukkan bahwa panggung terbesar sepak bola dunia tahun ini bukan hanya diisi gol, penyelamatan gemilang, atau adu taktik. Ada pemain lain yang tidak mengenakan nomor punggung, tidak pernah masuk daftar susunan pemain, tetapi hampir selalu hadir di setiap kontroversi, yakni Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut AFP, Trump menyebut penyelenggaraan Piala Dunia 2026 sebagai sebuah keberhasilan. Mungkin benar. Sebab turnamen ini memang sukses membuktikan bahwa bahkan sepak bola pun tidak kebal terhadap politik.
Kontroversi dimulai jauh sebelum peluit dibunyikan. Sejumlah suporter kesulitan memasuki Amerika Serikat. Seorang wasit asal Somalia yang diakui dunia justru gagal memperoleh visa. Tim nasional Iran bersama sebagian pendukung dan delegasinya tidak diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat sehingga harus menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai markas selama turnamen. Rupanya, untuk menuju stadion, sebagian orang harus lebih dulu melewati pertandingan lain yang bernama politik.
Di tengah situasi itu, Gedung Putih tetap bersiap menyambut malam final. Trump dijadwalkan menyerahkan trofi kepada juara dunia seusai laga Argentina melawan Spanyol. Bagi pemerintah Amerika Serikat, final menjadi penutup lebih dari setahun persiapan bersama Kanada dan Meksiko. Bagi publik, penutup itu justru terasa seperti bab terakhir dari sebuah serial kontroversi.
AFP juga mencatat kritik terhadap kebijakan imigrasi pemerintah Amerika Serikat yang dinilai menghambat kedatangan sebagian suporter. Kelompok pembela hak asasi manusia ikut bersuara, sementara harga tiket yang melambung membuat sebagian penggemar merasa bahwa menonton Piala Dunia dari ruang tamu jauh lebih realistis daripada hadir di tribun.
Belum cukup sampai di situ. Trump beberapa kali mengusulkan agar pertandingan dipindahkan dari kota-kota yang tidak sejalan dengan kebijakan federal mengenai imigrasi. FIFA pun berselisih dengan sejumlah pemerintah daerah terkait pembiayaan transportasi publik. Di luar lapangan, yang diperebutkan ternyata bukan bola, melainkan kewenangan dan anggaran.
Bab berikutnya bahkan lebih menarik. Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino dan meminta agar kartu merah Folarin Balogun ditinjau kembali. Biasanya yang mengajukan banding adalah klub atau federasi. Kali ini, menurut AFP, seorang kepala negara ikut masuk ke ruang ganti perwasitan. Sulit mengatakan apakah itu kepedulian terhadap sepak bola atau keyakinan bahwa bahkan kartu merah pun bisa dinegosiasikan.
Hubungan Amerika Serikat dengan Kanada dan Meksiko sebagai sesama tuan rumah juga tidak berlangsung mulus. Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap kedua negara, menolak memperpanjang perjanjian perdagangan trilateral, lalu mengancam tarif tambahan terhadap Kanada karena asap kebakaran hutan menurunkan kualitas udara di New Jersey, lokasi final. Sebagai penutup, Trump berseloroh bahwa FIFA sebaiknya kembali memberikan hak tuan rumah kepada Amerika Serikat tanpa melibatkan Kanada dan Meksiko. Mungkin konsep tuan rumah bersama memang terlalu sederhana bagi mereka yang lebih menyukai pemeran utama tunggal.
Menjelang final, geopolitik ikut turun ke lapangan. Hubungan Washington dengan Madrid memburuk setelah Spanyol menolak memenuhi target anggaran pertahanan NATO dan tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk operasi Amerika Serikat terhadap Iran. Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei dikenal memiliki hubungan dekat dengan Trump. Pada titik ini, pertandingan Argentina melawan Spanyol nyaris terdengar seperti agenda diplomatik yang kebetulan dimainkan dengan bola.
Sementara itu, IRNA, mengutip The Times, melaporkan bahwa pencabutan hukuman Balogun diputuskan langsung oleh Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammed Al Kamali. Pengungkapan itu memperbesar perdebatan setelah Trump sendiri mengakui telah meminta Presiden FIFA meninjau hukuman pemain Amerika Serikat tersebut.
Kasus Balogun kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kartu merah. Pertanyaannya bukan lagi apakah keputusan itu tepat atau keliru. Pertanyaannya bergeser menjadi, seberapa jauh pintu ruang sidang FIFA terbuka ketika yang mengetuk bukan pelatih, bukan federasi, melainkan penghuni Gedung Putih.
Piala Dunia selama puluhan tahun dipromosikan sebagai bahasa universal yang menyatukan bangsa-bangsa. Namun edisi 2026 memperlihatkan pelajaran yang berbeda. Ketika politik ikut bermain, garis lapangan menjadi kabur, ruang VAR terasa tidak cukup luas, dan peluit wasit terkadang harus bersaing dengan dering telepon dari pusat kekuasaan.
Mungkin inilah inovasi terbesar Piala Dunia 2026. Bukan teknologi baru, bukan format baru, melainkan pembuktian bahwa dalam sepak bola modern, yang paling sulit dijaga bukan lagi gawang, melainkan independensi.
