Kafr Rumman: Pembuktian bahwa Bertahan Lebih Kuat dari Pengeboman
POROS PERLAWANAN – Serangan terus-menerus Israel dan kehancuran infrastruktur yang luas tidak mampu menjauhkan warga Kafr Rumman di selatan Lebanon dari rumah mereka. Dengan kembali ke rumah dan lahan mereka yang rusak, mereka menganggap kepulangan ini sebagai bentuk “perlawanan” terhadap Rezim Pendudukan.
Fars melaporkan, meskipun mengalami kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, korban jiwa yang besar, dan ancaman militer yang berkelanjutan, Kafr Rumman sedang berusaha bangkit kembali dengan mengandalkan kemampuan mandiri dan manajemen lokal. Sementara di sisi lain, Pemerintah pusat Lebanon praktis tidak berperan dalam mendukung proses pemulihan ini.
Perlawanan warga kota ini tidak hanya terlihat dari keputusan mereka untuk tetap tinggal di tanah mereka, tetapi juga dalam upaya menghidupkan kembali infrastruktur dengan fasilitas seadanya serta berdiri tegak melawan Pendudukan yang mencoba menghapus bagian-bagian dari memori alami dan sejarah mereka.
Situasi Kehancuran dan Korban
Serangan Israel yang terus-menerus ke kota Kafr Rumman, yang terletak di distrik Nabatieh, telah menyebabkan kerusakan mendalam pada kota yang menjadi penghubung antara kota Nabatieh, Bekaa Barat, wilayah Iqlim al-Tuffah, serta desa-desa di selatan Lebanon. Sekitar sepertiga unit hunian di kota ini (35% dari 6.000 unit) telah hancur atau rusak. Dari jumlah tersebut, 130 unit tidak layak huni karena rusak parah dan 120 unit hancur total. Selain itu, tercatat ada 33 syahid dalam serangan-serangan Israel tersebut.
Tindakan Kotamadya di Tengah Absennya Pemerintah
Meskipun gencatan senjata diumumkan pada 17 April 2026, Kotamadya Kafr Rumman tidak menunggu pihak Pendudukan pergi sepenuhnya. Sejak jam-jam pertama, mereka langsung bergerak membersihkan puing-puing, membuka jalan, dan memfasilitasi kepulangan warga. Namun, karena tidak adanya peralatan dan dukungan dari Pemerintah (yang bahkan tidak menyediakan alat berat untuk membuka jalan), Kotamadya menggunakan anggaran terbatasnya untuk memperbaiki 74 titik kerusakan jaringan air dan berkoordinasi dengan pemilik generator untuk mengembalikan aliran listrik ke lingkungan-lingkungan. Meski demikian, pemulihan listrik negara belum membuahkan hasil.
Ancaman Berkelanjutan dan Pendudukan Bagian Wilayah
Walaupun ada klaim pemberlakuan gencatan senjata, serangan-serangan Israel ke pinggiran kota ini (khususnya wilayah Doha Kafr Rumman) masih berlanjut. Akses ke wilayah ini dilarang karena adanya pasukan Israel yang ditempatkan di Bukit Tahreh.
Walikota Kafr Rumman menekankan bahwa wilayah ini adalah bagian dari memori lingkungan kota. Di tempat inilah, pada 10 Juli 2026, Israel secara sistematis membakar tempat perlindungan para syuhada Kafr Rumman, yang mencakup 8.500 pohon pinus yang telah berusia ratusan tahun, dengan menggunakan bahan pembakar.
Keyakinan Mendalam Warga Kafr Rumman pada Kepulangan dan Perlawanan
Surat kabar Lebanon, al-Akhbar, dalam laporannya pada Sabtu 25 Juli mengenai situasi terkini Kafr Rumman menulis: “Meskipun kepulangan ke kota Kafr Rumman masih terbatas dan sangat berisiko karena posisinya di dekat Bukit Tahreh yang diduduki Israel, serta serangan hampir setiap hari oleh Israel dan kehancuran luas akibat perang yang menghambat warga untuk menetap sepenuhnya, namun penduduk wilayah ini yakin bahwa kehilangan tanah tidak dimulai dengan pendudukan atau kehancuran, melainkan dimulai ketika pemiliknya menyerah.”
Um Ali Salameh merangkum hubungan istimewa dengan Kafr Rumman ini dalam kalimat sederhana: “Kami telah mengalami kehancuran dan perang, tetapi Kafr Rumman tangguh dan akan kembali lebih indah dari sebelumnya.”
Ketika Um Ali berbicara tentang kotanya, ia tidak hanya melihatnya sebagai sebuah tempat, melainkan menghubungkannya dengan tanah yang telah menciptakan kehidupan bagi penduduknya. Pada hari pertama kepulangannya, ia berkata,”Saya pergi ke ladang dan menanam Molokhia (sejenis sayuran).”
Ia menegaskan bahwa sejak hari pertama gencatan senjata, ia sibuk menyirami dan merawat tanaman tersebut.
Tentang penduduk Kafr Rumman, ia mengatakan, “Mereka sangat terikat pada tanah, bumi, dan pertanian. Batu-batu rumah kami disusun dari jerih payah bekerja di tanah ini. Begitulah kami. Kami tidak akan melepaskan tanah kami, dan berapa pun lamanya masa pengungsian, kami akan kembali ke Kafr Rumman.”
Menurut laporan tersebut, komitmen terhadap tanah ini bukan sekadar kata-kata, melainkan terlihat dalam kisah-kisah penduduk kota yang memutuskan untuk kembali meskipun mengalami kehancuran besar.
Abu Muhammad Shukroun adalah salah satunya. Rumahnya hancur dalam serangan udara Israel beberapa menit sebelum gencatan senjata diumumkan, tetapi ia percaya bahwa “kembali adalah bentuk perlawanan dan tindakan keteguhan.”
“Dibandingkan dengan pengorbanan para syuhada, semua kerugian ini tidak ada artinya,” kata Shukroun.
Hari ini, Shukroun telah membuka kembali tokonya dan mengatakan,”Kegiatan komersial akan segera kembali ke kota, rumah akan dibangun kembali, dan tekad kami tidak terkalahkan.”
Di pusat kota, serangan Israel menghancurkan sebuah salon kecantikan. Pemiliknya, Inas Ghabris, tidak melihat kehancuran ini sebagai akhir, melainkan sebagai motivasi untuk memulai kembali.
“Ketika saya kembali ke kota setelah perang, saya membuka toko lain, dan itu adalah hal pertama yang saya lakukan, karena kami tidak akan menyerah dan betapapun besarnya kerugian, kami akan bangkit kembali,” kata Ghbaris.
Di sudut lain kota, kerusakan yang dialami oleh psikolog Maysa Ghabris menjadi bukti dimensi ekonomi dan sosial perang. Toko buku dan pamerannya yang bernama “Nabd al-Janoub” (Denyut Selatan), yang selama delapan tahun terakhir menjadi salah satu tujuan warga, tidak luput dari kehancuran.
Ghabris menggambarkan apa yang terjadi dengan mengatakan, “Tidak ada yang tersisa dari toko buku saya. Kerugian diperkirakan sekitar 150 ribu Dolar. Namun, saya tidak akan berhenti bekerja dan menunggu situasi keamanan membaik untuk membuka kembali toko buku ini.”
Tekad dan Harapan Kolektif: Narasi Perlawanan Sehari-hari
Al-Akhbar menulis:”Narasi-narasi ini mencerminkan semangat umum penduduk Kafr Rumman. Di antara rumah yang sedang dibangun kembali, ladang yang pemiliknya telah kembali, dan toko yang pintunya dibuka kembali, terdapat tekad kolektif yang menganggap kepulangan sebagai bentuk perlawanan dan tindakan melawan perang itu sendiri.”
“Bagi banyak penduduk Kafr Rumman, kekalahan tidak diukur dari tingkat kehancuran, melainkan dari kemampuan perang untuk memisahkan pemilik tanah dari tanah mereka. Itulah sebabnya mereka memilih untuk tetap tinggal, meski musuh telah melancarkan segala tekanan agar mereka pergi.”
