Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Agresi ke Iran Meluas, Gaza Kembali Dijadikan Medan Kelaparan

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, bayang-bayang perang regional kembali menebar petaka di Jalur Gaza. Di saat agresi Israel meluas hingga menyeret Iran ke dalam pusaran konfrontasi terbuka, rakyat Palestina di Gaza justru menghadapi babak baru penderitaan, pengepungan total yang mengancam dua juta jiwa dengan krisis kelaparan.

Sejak dimulainya serangan terhadap Iran, Rezim Pendudukan menutup seluruh penyeberangan menuju Gaza tanpa batas waktu. Kebijakan ini segera memutus arus logistik yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan di wilayah yang telah lebih dari dua tahun dilanda perang dan kehancuran. Dengan sekitar 60 persen wilayah Gaza kini berada di bawah kendali Militer Israel, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar nyaris mutlak.

Organisasi-organisasi kemanusiaan yang masih beroperasi di tengah reruntuhan memperingatkan bahwa stok makanan yang tersisa hanya cukup untuk hitungan hari. Persediaan yang tersedia saat konflik dengan Iran pecah pada Sabtu 28 Februari lalu kini menyusut dengan cepat.

Pendiri World Central Kitchen, José Andrés mengungkapkan keprihatinannya melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa dapur-dapur umum yang setiap hari memasak hingga satu juta porsi makanan panas akan kehabisan bahan pekan ini jika perbatasan tetap ditutup. “Kami membutuhkan pengiriman makanan setiap hari,” tegasnya, menggambarkan situasi yang semakin genting.

Pakar keamanan pangan internasional juga memperingatkan bahwa pasokan bahan makanan segar di Gaza kemungkinan hanya cukup untuk sekitar satu minggu dalam kondisi saat ini. Toko roti komunitas yang melayani warga paling rentan dilaporkan hanya memiliki tepung untuk sekitar 10 hari, sementara paket bantuan diperkirakan bertahan tak lebih dari dua pekan.

Krisis ini bukanlah yang pertama. Musim semi lalu, Rezim Pendudukan memberlakukan pengepungan total yang kemudian diikuti pembatasan ketat terhadap pengiriman pangan. Kebijakan tersebut berkontribusi pada kondisi kelaparan akut selama musim panas. Ratusan warga Palestina bahkan gugur saat mencoba menjangkau titik distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation, yang beroperasi di wilayah-wilayah di bawah kontrol Militer Israel.

Kabar meluasnya perang ke Iran memicu gelombang pembelian panik di pasar-pasar Gaza. Kenangan pahit akan kelaparan masih membekas dalam ingatan kolektif warga. Harga-harga pun melonjak drastis. Sejak pekan lalu, harga sekarung tepung terigu 25 kilogram melonjak tiga kali lipat, dari sekitar 30 Shekel menjadi 80 hingga 100 Shekel. Gula, minyak goreng, hingga popok bayi mengalami kenaikan dua kali lipat.

“Kembalinya kelaparan ke Gaza adalah hal yang paling kami takuti, bahkan lebih dari penembakan,” ujar Sobhi al-Zaaneen, ayah tujuh anak dari Gaza utara. Ia berusaha membeli tambahan bahan pangan sebelum harga semakin tak terjangkau.

Namun, tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk menimbun persediaan. Um Mohammed Hijazi, ibu lima anak yang telah lima kali mengungsi dan kehilangan rumahnya, mengaku tak punya cukup uang untuk membeli stok tambahan. “Saya hanya punya sedikit persediaan dari bantuan yang mungkin cukup untuk beberapa hari,” katanya lirih.

Di tengah kepanikan, muncul pula laporan bahwa sebagian pedagang menahan barang dagangan mereka, menunggu harga melambung lebih tinggi. Situasi ini memperparah ketidakstabilan pasar yang memang sudah rapuh akibat perang berkepanjangan.

Secara hukum internasional, sebagai kekuatan Pendudukan di Gaza, Israel berkewajiban memastikan pasokan pangan memadai bagi warga sipil. Kepala Dewan Pengungsi Norwegia, Jan Egeland menegaskan bahwa kewajiban tersebut tidak gugur meski konflik regional meluas. Ia memperingatkan bahwa dapur umum mulai tutup dan harga kebutuhan pokok terus meroket.

Sementara itu, otoritas Israel yang mengawasi arus bantuan (COGAT) mengeklaim penghentian pengiriman dilakukan atas alasan keamanan di tengah perang dengan Iran. Mereka menyatakan penyeberangan Karem Abu Salem akan dibuka kembali secara bertahap untuk bantuan kemanusiaan, sembari menegaskan bahwa stok pangan di Gaza “masih mencukupi untuk sementara waktu”, tanpa memaparkan data rinci.

Di sisi lain, pejabat Palestina dan lembaga internasional telah berbulan-bulan memperingatkan bahwa bahkan selama masa gencatan senjata, barang-barang kebutuhan pokok tetap langka. Pada Desember 2025 lalu, para ahli yang didukung PBB melaporkan hampir empat dari lima warga Gaza menghadapi kerawanan pangan akut.

Bahaa al-Amawi dari Kamar Dagang Gaza Utara menegaskan tidak ada cadangan strategis yang tersedia. “Begitu penutupan diumumkan, krisis psikologis langsung melanda warga karena trauma kelaparan sebelumnya,” ujarnya.

Kini, keluarga-keluarga seperti Alaa Abu Rakba yang menyambung hidup dengan berjualan daging di depan tenda setelah rumahnya hancur berusaha bertahan. Mengaku telah “belajar dari kesalahan”, ia segera membeli tepung, gula, dan minyak sebelum harga semakin tak terjangkau.

Di tengah dentuman perang regional dan retorika geopolitik, Gaza kembali berdiri di tepi jurang kelaparan. Bagi rakyat Palestina, agresi yang meluas bukan sekadar berita internasional, melainkan ancaman nyata terhadap sepiring makanan terakhir di meja mereka.

Tags: