Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Al-Houthi: Rencana Trump untuk Palestina adalah Rancangan Israel Sepenuhnya

Al-Houthi: AS Bukan Hanya Incar Palestina, Tapi Seluruh Kawasan

POROS PERLAWANAN – Pemimpin Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin Al-Houthi, menegaskan bahwa rencana yang diusung Donald Trump terkait Palestina sepenuhnya merupakan rancangan Israel.

“Dalam rencana Trump, status negara Palestina sama sekali tidak diakui, bahkan pada tingkat formal yang diterima sebagian negara Barat,” kata Al-Houthi dalam pidato mingguannya, Kamis malam 2 Oktober, seperti dikutip Kantor Berita Tasnim.

Genosida yang Terus Berlanjut

Al-Houthi menyoroti situasi di Jalur Gaza, konspirasi Amerika Serikat dan Rezim Zionis, serta lemahnya respons dunia Islam. Ia menyebut bahwa hampir dua tahun terakhir, terlebih setelah Sidang ke-80 PBB, kemarahan global mencapai puncak karena Israel terus melakukan genosida terhadap rakyat Palestina.

“Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 2.500 orang gugur dan terluka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Ribuan lainnya mengungsi, sementara sebagian masih terjebak di lingkungan Gaza yang terkepung,” ujarnya.

Menurutnya, Israel menggunakan “senjata kelaparan” dan penghancuran total, termasuk meratakan menara dan rumah-rumah yang tersisa. Tindakan itu, kata Al-Houthi, merupakan strategi migrasi paksa agar Gaza tak lagi layak dihuni.

Kekejaman yang Terang-Terangan

Al-Houthi menambahkan bahwa Israel bahkan bangga menyasar perempuan dan anak-anak.

“Gambar-gambar dari Gaza lebih berbicara daripada kata-kata. Mengikuti perkembangan di Gaza penting agar hati nurani tetap hidup, rasa tanggung jawab tumbuh, dan kesadaran tentang pentingnya isu ini tidak hilang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa mengabaikan tragedi Gaza sama saja dengan mengingkari kemanusiaan dan fakta penting di Kawasan ini.

Penolakan AS dan Israel terhadap Negara Palestina

Lebih lanjut, Al-Houthi menyinggung penolakan Amerika Serikat dan Israel terhadap pengakuan sejumlah negara Eropa atas Palestina.

Menurutnya, “Rencana Trump” disusun dengan konsultasi Netanyahu, sehingga seluruh tuntutan Israel diakomodasi. Dalam rancangan itu, tidak ada pengakuan kedaulatan Palestina atas Jalur Gaza, bahkan Otoritas Palestina pun dikesampingkan.

Israel, tegasnya, menjadikan rencana tersebut sebagai jalan untuk melucuti Perlawanan dan mengusir para pejuang dari Gaza.

Protes Global dan Tekanan Politik

Al-Houthi juga menyinggung meningkatnya gelombang protes global. Menurutnya, genosida yang dilakukan Israel bersama AS begitu terang-terangan hingga memaksa banyak elite dunia menyebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan.

Bahkan, aksi protes di Eropa dan Australia meluas hingga ke tingkat akar rumput, seperti serikat buruh dan pekerja pelabuhan. Tekanan publik itu, kata Al-Houthi, mendorong sejumlah negara bersikap, meskipun hanya sebatas pengakuan simbolis terhadap negara Palestina.

Tipu Daya Amerika

Ia memperingatkan tentang “politik pengalihan” Amerika Serikat yang seakan memberi solusi, namun sejatinya melayani kepentingan Israel.

“Proyek jembatan laut hanyalah operasi penipuan. Begitu pula dengan apa yang mereka sebut ‘Lembaga Kemanusiaan Gaza’. Semua upaya itu hanyalah kedok untuk menutupi kejahatan Israel,” tegasnya.

Rencana Israel dalam Bungkus Trump

Menurut Al-Houthi, rancangan yang dikenal sebagai “Rencana Trump” sejatinya adalah rencana Israel sepenuhnya. Netanyahu, katanya, bahkan mengakui bahwa rencana itu mencakup semua tuntutan Israel.

Trump sendiri sebelumnya mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, sebuah langkah yang oleh Al-Houthi disebut “paling berbahaya dan merusak perjuangan Palestina”.

“Trump membentuk apa yang disebut ‘Dewan Perdamaian’, yang sebenarnya adalah dewan untuk merampas hak-hak Palestina dan membuka jalan dominasi Israel,” kata Al-Houthi.

Warisan Inggris, Peran Amerika

Al-Houthi juga mengingatkan bahwa pendirian Rezim Zionis tak lepas dari Inggris, yang melalui “Mandat Inggris” menyerahkan Palestina kepada Yahudi Zionis. Kini, kata dia, Amerika mengambil alih peran itu dengan cara merampas hak-hak Palestina di Gaza.

Proyek Amerika: Timur Tengah untuk Israel

Di akhir pidatonya, Al-Houthi menyoroti proyek besar Amerika Serikat dalam kerangka “mengubah Timur Tengah”.

“Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa sistem Arab harus bertugas melucuti Hamas, Brigade Al-Qassam, dan Kelompok Perlawanan lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa proyek Amerika adalah menjadikan Israel wakil resmi mereka di Kawasan, sementara bangsa Arab dan Islam yang menanggung kerugiannya,” tegasnya.

Tags: