Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Analis Zionis: Miliki Akar Kuat di Tengah Masyarakat. Hamas Bukan Organisasi Luar yang Paksakan Kehendaknya

Analis Zionis: Miliki Akar Kuat di Tengah Masyarakat. Hamas Bukan Organisasi Luar yang Paksakan Kehendaknya

POROS PERLAWANAN – Harian Yedioth Ahronoth menganalisis hari pertama gencatan senjata dan pertukaran tawanan antara Hamas dan Israel. Harian ini juga menyoroti konsep-konsep politis dari momen pertukaran 3 tawanan wanita Israel dengan 90 tawanan Palestina.

Dilansir al-Alam, analis militer Yedioth Ahronoth, Ron Ben-Yishai dalam tulisannya menyatakan, Kabinet Israel mengabaikan fakta bahwa “Hamas bukanlah sebuah organisasi religius radikal dan asing yang memaksa masyarakat menerimanya. Hamas adalah lembaga terorganisasi dan konkret yang berasal dari aspirasi mayoritas masyarakat Gaza yang berjumlah lebih dari 2 juta orang. Berdasarkan riset budaya dan kajian atas harapan serta ideologi penduduk Palestina, Hamas adalah Gaza dan Gaza adalah Hamas.”

Ben-Yishai mengkritik Kabinet Netanyahu yang kerap menggunakan frasa-frasa seperti “penggulingan Hamas” atau “kemenangan mutlak.”

“Ini adalah frasa-frasa samar dari dunia sastra dan puisi, bukan frasa-frasa kehidupan nyata dan tidak bisa digulirkan sebagai tujuan dan kehendak sebuah Kabinet yang menyebut dirinya ‘musuh ideologis kezaliman.’”

“Israel mustahil bisa membunuh seluruh anggota Hamas. Mungkin juga Israel tidak mampu mengusir anggota terakhir Hamas dan pejabat-pejabat seniornya. Namun Israel bisa mendesak agar Gaza disterilkan dari seluruh infrastruktur teroris, seperti terowongan, peluncur bom, peluru mortir, dan alat-alat peledak. Sehubungan dengan ini, jika sebuah lembaga internasional tidak ditentukan untuk melakukan hal tersebut, Militer Israel harus melakukannya sendiri, bahkan mesti memakan waktu lebih dari satu tahun.”

“Syarat praktis kedua adalah Hamas tidak memiliki kekuatan di Gaza. Jika itu terjadi, Israel tidak butuh banyak berusaha, sebab Hamas beberapa kali menyatakan, mereka tidak ingin memerintah Gaza. Mereka hanya ingin tetap eksis di sana sebagai elemen politik bersenjata, seperti Hizbullah, dan sebuah organisasi perlawanan bersenjata.”

Menurut Ben-Yishai, Israel harus menyambut baik pengabaian Hamas terhadap kekuasaan, namun harus menentang segala bentuk persenjataan Hamas.

Ben-Yishai mengakui ia kesal menyaksikan momen pembebasan 3 tawanan wanita Israel di tengah publik yang bersukacita, karena momen tersebut “mengilustrasikan kekuatan Hamas.”

 

Tags: