Di Tengah Agresi dan Blokade Total Israel, Belasan Ribu Pasien Kanker Gaza Hadapi ‘Eksekusi Bertahap’
POROS PERLAWANAN – Kepala Pusat Kanker Gaza, Muhammad Abu Nada mengungkapkan bahwa 12.000 pasien kanker di wilayah tersebut terombang-ambing antara harapan dan kematian. Dia menyebut mereka sedang mengalami “eksekusi bertahap dan lambat”.
Dilansir Fars, Abu Nada menjelaskan bahwa dengan kelangkaan obat-obatan esensial dan terapeutik yang telah melebihi 60 persen, setidaknya tiga pasien kanker meninggal setiap hari. Menurutnya, beberapa jenis obat telah habis sama sekali, dan hanya kiriman terbatas yang diterima melalui organisasi internasional.
Para pasien kanker di Gaza sebelumnya sudah menghadapi kekurangan parah peralatan kemoterapi dan obat-obatan. Namun kini, di tengah agresi Israel yang terus berlanjut dan blokade darat, udara, dan laut, mereka secara praktis telah kehilangan akses ke perawatan medis dasar.
Para aktivis hak asasi manusia menggambarkan situasi ini sebagai “eksekusi bertahap dan terencana”. Mereka memperingatkan tentang kebungkaman Badan-badan internasional di hadapan bencana kemanusiaan ini.
Abu Nada menekankan bahwa angka yang diumumkan tidak mencerminkan jumlah kasus yang sebenarnya, karena kapasitas diagnosis telah berkurang, laboratorium berhenti beroperasi, dan akses ke rumah sakit menjadi sulit.
Ia menambahkan bahwa sekitar 4.000 pasien kanker memiliki izin rujukan untuk berobat di luar Jalur Gaza, tetapi penundaan atau penolakan izin perjalanan telah memperburuk kondisi mereka. Sejak dimulainya perang, hanya sekitar 2.000 pasien yang berhasil meninggalkan Gaza untuk berobat.
Abu Nada menyatakan bahwa sektor kesehatan Gaza menghadapi kekurangan parah peralatan diagnostik, perlengkapan laboratorium, dan tenaga ahli. Layanan radioterapi dan transplantasi sumsum tulang juga masih tetap tidak tersedia di Gaza.
