Cara Iran Hadapi Serangan: Dengan Persatuan dan Wawasan
POROS PERLAWANAN — Dalam sebuah pernyataan strategis yang dikeluarkan oleh Dewan Tertinggi Revolusi Kebudayaan (SCCR) berbasis di Qom, Republik Islam Iran pada Selasa 17 Juni, menegaskan bahwa konfrontasi terbaru yang dipicu oleh agresi entitas Zionis bukanlah sekadar bentrokan militer, melainkan perang peradaban dan kognitif. Ini adalah babak baru dalam dinamika sejarah Kawasan yang ditandai oleh eskalasi asimetris dan intensifikasi konfrontasi antara dua visi dunia. Satu berakar pada kemerdekaan dan nilai Ilahiah, dan lainnya pada kolonialisme dan supremasi buatan.
Sebagaimana dilaporkan oleh Mehrnews, pernyataan tersebut tidak hanya merespons serangan terhadap pusat-pusat vital Iran, baik sipil maupun strategis, tetapi juga menegaskan bahwa medan tempur utama kini telah bergeser ke ranah kesadaran kolektif, identitas nasional, dan eksistensi budaya bangsa.
Lebih dari Sekadar Rudal: Ini Soal Arah Sejarah
Agresi militer rezim Zionis, yang secara implisit disokong dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat, menargetkan bukan hanya struktur pertahanan atau tokoh kunci militer Iran. Target sebenarnya adalah proyek besar peradaban Islam kontemporer yang digagas oleh Republik Islam pasca-1979. Proyek kemerdekaan teknologi, kedaulatan energi, dan kebangkitan identitas kolektif Islam di Kawasan.
Tuduhan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir hanyalah dalih usang. Narasi tersebut telah lama dipakai untuk menutupi agenda geostrategis Barat, yaitu menggagalkan transformasi Iran menjadi kekuatan regional mandiri yang tak lagi tunduk pada logika unipolar dunia.
Dominasi Tak Lagi Ditentukan oleh Peluru
Lawan memahami bahwa konfrontasi militer langsung dengan Iran dan sekutunya akan membawa konsekuensi bencana. Maka, fokus digeser ke medan perang kognitif dan psikologis, medan yang lebih halus, tetapi tak kalah menentukan. Tujuannya: menanamkan keraguan, menyulut keputusasaan, dan memecah-belah tatanan sosial nasional.
Sekretariat SCCR menekankan pentingnya aktivasi penuh kekuatan budaya dan media, baik institusional maupun individu untuk mengambil posisi sebagai garda depan dalam perang ini. Alat tempurnya bukan roket, melainkan narasi, intelektualitas, dan kemampuan membangun makna.
Langkah Strategis dalam Medan Perang Pikiran
Tiga pilar utama yang menjadi fokus intervensi strategis budaya dan media adalah:
1. Pencerahan Naratif: Menyajikan informasi jernih dan faktual kepada publik, menjelaskan dimensi struktural dari perang, dan membentuk opini kolektif berbasis sejarah dan visi masa depan.
2. Serangan Balik Psikologis: Mengungkap kepalsuan logika musuh, mendekonstruksi propaganda mereka, dan menyerang balik melalui narasi yang cerdas, fasih, dan taktis.
3. Melawan Fragmentasi Sosial: Menutup celah-celah yang coba dimanfaatkan musuh untuk menciptakan keretakan, serta menyemai kembali semangat kebersamaan dan ijtihad nasional.
Dalam konteks ini, setiap aktor yang memperbesar perbedaan, menyebarkan sinisme, atau mengusik fondasi ketahanan nasional, secara langsung atau tidak, telah menjadi perpanjangan tangan dari strategi musuh.
Peradaban Melawan Entitas Artifisial
Iran adalah bangsa dengan jejak sejarah ribuan tahun, sementara rezim Zionis hanyalah entitas artifisial hasil kompromi kolonial yang belum genap satu abad. Dalam benturan dua entitas ini, bahkan eksistensi historis telah menjadi alat propaganda itu sendiri.
Pernyataan SCCR menegaskan bahwa setiap sektor masyarakat, baik budaya, agama, seni, hingga olahraga memiliki posisi strategis dalam mempertahankan benteng psikologis bangsa. Persatuan bukan sekadar nilai moral, melainkan strategi bertahan hidup dalam medan konflik global yang kompleks.
Dari Khaybar ke Quds: Sebuah Janji yang Terjaga
Mengutip kalimat abadi Syahid Qasim Soleimani: “Demi Allah, Israel lebih lemah dari jaring laba-laba.” Kalimat ini kini menjelma menjadi doktrin lapangan, terbukti melalui keberanian Perlawanan Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan Garda Revolusi di Iran. Ketiganya, bersama Poros Perlawanan lain, telah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan hanya berasal dari peralatan militer belaka, melainkan juga dari keteguhan keyakinan, kejelasan visi, dan kemurnian perjuangan.
Hari ini, dengan arah serangan utama yang tertuju pada jantung eksistensi Republik Islam, setiap kompromi naratif atau dukungan terhadap agresor hanyalah pengkhianatan terhadap sejarah dan masa depan bangsa. Sejarah akan mencatat dengan jernih, siapa yang berdiri teguh, dan siapa yang tunduk pada tekanan.
Waktunya Membangun Narasi Kemenangan
Ketika sejarah memanggil, ia tak meminta semua orang menjadi pejuang bersenjata. Sebagian diminta menjadi penjaga narasi. Maka, bagi para pemegang pena, mikrofon, dan kamera: ini bukan waktu untuk netral atau ragu-ragu. Ini adalah saat untuk mengabarkan kebenaran, menyiarkan harapan, dan menyusun kembali peta kebudayaan bangsa.
Sebab Quds akan dibebaskan bukan hanya oleh rudal dan Syuhada, melainkan juga oleh narasi yang menyatukan bangsa di bawah panji satu peradaban.
