Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Clinton Diseret dalam Pusaran Berkas Epstein, Demokrat Balik Arahkan Sorotan ke Trump

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, di tengah pusaran skandal yang kembali mengguncang panggung politik Amerika Serikat, nama Bill Clinton kembali terseret dalam pusaran berkas kasus Jeffrey Epstein. Namun, di hadapan tekanan politik yang memuncak, mantan Presiden itu bersikeras bahwa ia tidak bersalah. Sementara itu, Partai Demokrat justru mengarahkan sorotan tajam ke rival lama mereka di Gedung Putih, Donald Trump.

Dalam pemeriksaan tertutup di hadapan komite DPR yang menyelidiki jejaring relasi Epstein dengan elite politik dan bisnis, Clinton tampil dengan nada tegas. “Saya tidak melihat apa pun, dan saya tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujarnya dalam pernyataan pembuka yang kemudian beredar luas di media sosial. Pernyataan itu menjadi garis pertahanan utama di tengah badai tudingan yang kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman merilis dokumen-dokumen baru terkait kasus Epstein.

Nama Clinton memang muncul dalam berkas tersebut. Namun, ia menegaskan telah memutus hubungan dengan Epstein jauh sebelum taipan kontroversial itu divonis bersalah pada 2008 atas tuduhan meminta layanan seksual dari anak di bawah umur. Clinton juga menyatakan tidak pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein di Karibia, lokasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pusat operasi gelap perdagangan seks yang melibatkan jejaring elit global.

Penyelidikan ini dipimpin oleh Ketua Komite dari Partai Republik, James Comer yang sejak awal berjanji akan “mengajukan banyak pertanyaan.” Tekanan politik terasa kental. Bagi kubu Republik, momentum ini menjadi peluang untuk menggali relasi masa lalu Clinton dengan Epstein, termasuk catatan penerbangan pesawat pribadi Epstein yang konon digunakan Clinton puluhan kali pada awal 2000-an dalam rangka kegiatan kemanusiaan Yayasan Clinton.

Anggota komite dari Partai Republik, Anna Paulina Luna menyebut Clinton kooperatif selama pemeriksaan. Namun di sisi lain, anggota Demokrat di panel yang sama tidak tinggal diam. Mereka justru balik menuding mengapa hanya Clinton yang diperiksa, sementara Trump yang juga memiliki relasi terdokumentasi dengan Epstein belum dipanggil untuk bersaksi.

Perwakilan Demokrat, Suhas Subramanyam menyatakan lugas, “Mari kita jujur, kita sedang berbicara dengan presiden yang salah.” Pesan yang hendak disampaikan jelas, jika ingin membongkar jejaring kekuasaan yang melindungi predator seksual, maka semua nama besar harus diperiksa tanpa pandang bulu.

Clinton sendiri, tanpa menyebut nama Trump secara langsung, melontarkan kalimat yang sarat makna politik, “Tidak ada seorang pun yang kebal hukum, bahkan presiden sekalipun terutama presiden.” Pernyataan ini dibaca banyak pihak sebagai sindiran terbuka kepada Trump.

Di kubu Gedung Putih, Trump merespons dengan nada skeptis. Ia mengaku menyukai Clinton dan tidak ingin melihatnya “dicopot dari jabatannya.” Pernyataan yang terdengar ambigu ini justru memicu spekulasi baru di tengah publik yang kian curiga terhadap relasi para elite dengan Epstein.

Fakta bahwa nama Trump maupun Clinton muncul dalam dokumen bukanlah bukti pelanggaran hukum. Hingga kini, tidak ada dakwaan resmi terhadap keduanya terkait kasus Epstein. Namun bagi publik yang menyaksikan dari kejauhan, kemunculan berulang nama-nama elite dalam berkas yang sama menegaskan satu hal, ada lingkaran kekuasaan yang selama ini terasa kebal sentuhan hukum.

Pemeriksaan dilakukan secara tertutup di Chappaqua, New York, kediaman keluarga Clinton. Baik Bill maupun Hillary Clinton menyerukan agar proses dilakukan secara terbuka dan disiarkan ke publik. Hillary, yang sehari sebelumnya juga memberikan kesaksian, mendesak agar Trump dipanggil dan ditanyai langsung di bawah sumpah mengenai ribuan kemunculan namanya dalam berkas Epstein.

Epstein sendiri, yang divonis pada 2008 dan kembali ditangkap atas tuduhan perdagangan seks federal pada 2019, ditemukan tewas di sel tahanannya di New York. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri, namun hingga kini terus memicu spekulasi dan ketidakpercayaan publik.

Bagi rakyat yang muak pada impunitas elite, kasus ini lebih dari sekadar drama dua kubu. Ia adalah cermin dari sistem yang kerap melindungi mereka yang berada di puncak kekuasaan. Dan selama semua nama besar belum diperiksa secara terbuka dan transparan, kecurigaan bahwa hukum hanya tajam ke bawah akan terus membara.

Tags: