Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Dosir Bangkrut: Inspektur Vijay Bongkar Komedi Ekonomi Amerika

POROS PERLAWANAN – Laporan bertajuk “Amid ‘instability and fear’ in Trump’s economy, Americans are cutting holiday spending” karya Lauren Aratani, yang dipublikasikan oleh The Guardian pada Jumat 28 November, menjadi bahan bakar roket bagi Inspektur Vijay. Ia membuka laporan itu seperti seorang ahli forensik yang menemukan bahwa korban bukan hanya mati, tapi juga meninggalkan catatan yang menjelaskan kenapa seluruh sistem sekarat bersamanya. Dari sini, operasi seorang detektif dimulai, tanpa bius.

Inspektur Vijay sudah menghadapi banyak hal, preman kelas kakap, koruptor kelas internasional, hingga pejabat yang pikirannya lebih berbahaya daripada senjata tajam. Akan tetapi, ekonomi Amerika di era Trump selalu berhasil membuatnya mendengus, sebuah reaksi yang lebih langka daripada UFO mendarat di kantor polisi.

“Hitung…!” bentaknya sambil menampar koran itu ke meja interogasi. Artikel itu ia perlakukan bukan sebagai berita, melainkan barang bukti kegagalan kolektif.

Laporan tersebut menggambarkan rakyat Amerika sedang tercekik oleh inflasi, pendapatan yang menukik seperti pesawat tanpa pilot, dan rasa tidak aman yang menggelayuti udara seperti kabut asap pabrik. Vijay menatap data itu lama, lalu berkata: “Ini bahkan bukan drama politik. Ini sitkom murahan yang lupa menyalakan suara tawa.”

Ia menemukan catatan lain, bahwa puluhan juta warga dilaporkan mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. Angka yang membuat alisnya naik setengah senti, sinyal resmi bahwa negara adidaya sedang terengah-engah.

Natal pun kena imbas. Pohon cemara berdiri muram, lampu-lampu berkelip seolah minta pensiun dini, dan tradisi lama dilelang seperti barang bekas. Negara kaya merayakan hari raya dengan gaya hemat, hal yang bagi Vijay terasa seperti membeli supercar lalu memarkirnya di garasi karena tak mampu beli bensin.

Belum cukup, media lain menambahkan ketegangan geopolitik di Amerika Latin. Bagi Vijay, ini tampak seperti seseorang yang sedang berusaha menahan genteng atap rumah yang terbang, sementara seluruh fondasi bangunan sudah retak sejak kemarin.

Rekan kerja Vijay bergumam: “Para pendukung Barat yang percaya kompromi dengan Amerika adalah jalan keselamatan… masih yakin?”

Vijay menatapnya dengan senyum setipis pisau komando. “Tidak belajar dari pemimpin yang datang meminta bantuan lalu merasa tubuhnya dijual kiloan oleh pihak yang ia percaya? Ini bukan tragedi. Ini template.”

Ia menutup berkas itu, memutar kursinya, dan seperti biasa ketika akan menjatuhkan tamparan intelektual, ia bercerita.

“Dulu,” katanya, “ada seorang lelaki yang membawa keledainya ke pasar. Karena lelah, ia tertidur. Ketika bangun, ia melihat keledainya menghitung uang hasil penjualan dirinya sendiri.”

Vijay berdiri, merapikan jasnya seperti hakim menjatuhkan palu. “Dalam geopolitik,” ujarnya pelan, “peran keledai dan pedagang berganti secepat pasar saham runtuh. Satu prinsip tetap sama, jangan biarkan orang lain menghitung nasibmu.”

Lampu ruang interogasi mati. Kasus selesai. Ironinya? Itu justru baru mulai bekerja.

Sumber: The Guardian

Tags: