Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Drama Panas di Balik Layar: Trump Ngamuk Berjam-Jam, Serangan ke Iran Ambyar

POROS PERLAWANAN – Presiden AS Donald Trump menolak mengirim pasukan untuk merebut Pulau Kharg milik Iran, meskipun diberi tahu bahwa misi tersebut bisa berhasil, dengan alasan kekhawatiran terhadap potensi korban jiwa. Ia mengatakan bahwa pasukan Amerika akan menjadi “sasaran empuk” bagi angkatan bersenjata Iran, menurut sebuah laporan.

Menurut laporan oleh The Wall Street Journal (19/4) sebagaimana dikutip oleh Press TV, Trump mengambil keputusan tersebut setelah Iran menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 di wilayah udaranya dan membuat pilotnya terdampar.

Setelah diberi tahu bahwa sebuah jet Amerika telah ditembak jatuh dengan dua awak hilang, Trump “berteriak kepada para ajudannya selama berjam-jam” dan berulang kali mengatakan, “Orang Eropa tidak membantu.”

Ia juga merujuk pada krisis sandera Iran di masa lalu, memperingatkan, “Jika melihat apa yang terjadi pada Jimmy Carter… hal itu membuat mereka kalah dalam pemilu,” demikian laporan tersebut.

Pada tahun 1980, Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, mengirim pasukan khusus ke Iran untuk menyelamatkan para mata-mata AS yang ditangkap. Namun, sebagian besar pesawat yang membawa pasukan hancur akibat cuaca ekstrem di Iran bagian tengah, sehingga misi tersebut harus dibatalkan.

Trump menuntut tindakan segera, tetapi menghadapi kendala logistik karena pasukan AS tidak pernah beroperasi di darat di Iran sejak 1979.

Para ajudan menjauhkan Trump dari ruangan tempat briefing ‘menit demi menit’ terkait operasi Iran dilangsungkan, dan hanya memberinya pengarahan pada momen-momen penting karena mereka menilai ketidaksabarannya tidak akan membantu, kata seorang pejabat senior kepada The Wall Street Journal.

Kemudian terungkap bahwa operasi ini tidak ada kaitannya dengan klaim penyelamatan pilot F-15 yang ditembak jatuh, narasi yang awalnya didorong oleh pejabat Amerika.

Sebaliknya, bukti yang diperiksa dan dikonfirmasi oleh Press TV menunjukkan bahwa tujuan sebenarnya adalah menyusup dan menyerang salah satu fasilitas nuklir Iran di Isfahan, yang pada akhirnya gagal.

Agresi kriminal AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara yang menewaskan pejabat dan komandan senior Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Angkatan bersenjata Iran merespons dengan meluncurkan operasi harian berupa rudal dan drone yang menargetkan lokasi-lokasi di wilayah pendudukan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di seluruh kawasan.

Selain itu, Iran membalas serangan tersebut dengan menutup Selat Hormuz, yang menyebabkan lonjakan signifikan harga minyak dan produk turunannya.

Pada 8 April, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan setelah AS menerima proposal 10 poin dari Iran.

Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf ikut serta dalam perundingan dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.

Meskipun berlangsung selama 21 jam dengan diskusi intensif, perundingan berakhir tanpa kesepakatan, dengan Iran menyebut adanya “tuntutan berlebihan” dari pihak AS.

Tags: