Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Gelombang Teror Baru di Homs: Eskalasi Kekerasan dalam Struktur Kekuasaan al-Jolani

POROS PERLAWANAN — Setelah pembunuhan sepasang suami istri di provinsi Homs oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan unsur suku pendukung Pemerintahan al-Jolani, warga di berbagai wilayah provinsi tersebut melaporkan hidup dalam ketakutan yang berkelanjutan. Indikasi kuat menunjukkan meningkatnya kekacauan serta kembalinya ketegangan dan kejahatan sektarian di kawasan itu.

Menurut Tasnim News Agency pada Selasa 25 November, tindakan represif rezim Abu Muhammad al-Jolani terhadap berbagai komunitas di Suriah, terutama warga Alawi terus berlanjut. Dalam beberapa hari terakhir, rekaman visual dari Homs menunjukkan elemen bersenjata membakar rumah dan properti warga, memperkuat kesan bahwa pola intimidasi sistematis tengah terjadi.

Sumber lokal menjelaskan bahwa kekerasan paling intens melibatkan unsur bersenjata suku Badui Bani Khalid, yang telah melancarkan serangan brutal di wilayah-wilayah berpenduduk Alawi. Di kawasan Zeidl, Homs selatan, seorang pria dan istrinya menjadi korban pembunuhan oleh kelompok tak dikenal. Tubuh korban perempuan juga ditemukan dalam kondisi hangus, sementara dinding di lokasi kejadian dicoret dengan slogan bermuatan sektarian.

Pemerintahan al-Jolani Berupaya Membingkai Ulang Narasi Kekerasan

Setelah rangkaian serangan itu, kepanikan melanda Homs. Warga yang berbicara kepada Al-Mayadeen menegaskan bahwa mereka semakin tidak yakin akan masa depan mereka di bawah pemerintahan yang bersifat represif dan tidak dapat diprediksi.

Meskipun sejumlah bukti memperlihatkan unsur sektarian yang jelas dalam kekerasan tersebut, Kementerian Dalam Negeri Pemerintahan al-Jolani menyangkal adanya motivasi sektarian dalam kasus pembunuhan di Zeidl. Dalam pernyataannya, Kementerian mengeklaim bahwa slogan yang ditemukan hanyalah “upaya menyesatkan untuk memicu konflik sektarian”, sebuah pernyataan yang dinilai publik sebagai strategi politik untuk meredam kritik internasional dan domestik.

Warga Hidup dalam Ketakutan dan Ketidakpastian

Seorang perempuan 42 tahun dari lingkungan Al-Zahra mengatakan kepada Al-Mayadeen bahwa suasana di Homs “mendadak kembali seperti masa perang”. Ia menggambarkan anak-anaknya tidur di ruangan gelap demi menghindari kemungkinan tembakan dari luar.

Seorang mahasiswi dari Homs menambahkan bahwa seluruh keluarga di lingkungannya shock terhadap perkembangan situasi. Menurutnya, “ketegangan sektarian terasa seperti ancaman yang dapat kembali kapan saja”, sementara mayoritas warga hanya menginginkan stabilitas.

Pengguna media sosial Suriah memperingatkan bahwa keberadaan senjata di tangan kelompok ekstremis membuat situasi semakin tidak terkendali. Mereka menekankan bahwa kegagalan menangani persoalan ini dapat memicu gelombang kekerasan baru serta mengancam tatanan sosial di provinsi-provinsi lain.

Aktivis di Homs turut merilis foto-foto kerusakan dan memperingatkan bahwa bentrokan dapat meluas ke kota-kota lain, membuka jalan bagi gelombang ketegangan sektarian yang baru.

Kekhawatiran Akan Eskalasi Kekerasan di Seluruh Suriah

Aktivis HAM Samer al-Daei mengatakan kepada Al-Arabi Al-Jadeed bahwa Homs kini berada pada kondisi “tidak stabil dan rentan”. Ia menjelaskan bahwa kekuatan berlebihan yang dimiliki banyak kelompok bersenjata membuat setiap insiden kriminal dapat berubah menjadi krisis sosial dalam waktu singkat.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, menurutnya, adalah munculnya pernyataan dari beberapa kelompok lokal yang justru mendukung tindakan elemen bersenjata, alih-alih menyerukan penegakan hukum. Situasi ini memberi legitimasi informal bagi kelompok ekstremis untuk melanjutkan pola kekerasan.

Tuduhan Pelanggaran Berat oleh Rezim al-Jolani

Dalam pernyataan lain, seorang aktivis perempuan Suriah mengungkapkan bahwa Rezim al-Jolani telah melakukan eksekusi terhadap sejumlah warga Alawi di Homs selama beberapa hari terakhir. Ia menekankan bahwa pola kekerasan tersebut “menyerupai operasi penindasan ekstrem” yang ditujukan kepada kelompok tertentu.

Penulis dan aktivis Shoq Ibrahim menyebut Jolani sebagai “aktor ekstremis yang melakukan berbagai tindakan kriminal terhadap komunitas Alawi, Syiah, Druze, dan Kristen”. Menurutnya, operasi kelompok al-Jolani tidak hanya mencakup pembunuhan, tetapi juga pengusiran paksa serta perampasan rumah dan aset warga.

Tags: