Georges Abdallah: Perlawanan Adalah Fondasi Negara Merdeka
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Georges Abdallah, tokoh perlawanan Lebanon yang telah mendekam selama 41 tahun di penjara Prancis, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya di Qobayat. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen, Abdallah menegaskan bahwa perlawanan bukan hanya hak, tetapi merupakan kunci untuk membangun negara Lebanon yang berdaulat dan membela rakyat Palestina dari agresi dan genosida Israel.
Abdallah dibebaskan setelah tekanan dari berbagai gerakan solidaritas internasional yang selama bertahun-tahun menyerukan keadilan atas penahanannya. Ia mengungkapkan bahwa semakin lama ia ditahan, semakin besar pula kerugian yang dialami oleh Pemerintah Prancis, bukan hanya secara politik, tetapi juga moral. “Penahanan saya menjadi lebih berbahaya bagi Prancis daripada pembebasan saya,” ujarnya.
Di rumah, Abdallah disambut dengan kehangatan luar biasa. Ia menyebut keluarganya sebagai teladan keteguhan, karena tetap bertahan dan mendukung perjuangannya tanpa goyah. “Mereka adalah keluarga yang memiliki budaya perlawanan,” katanya. Ia juga menyampaikan rasa terkejutnya atas persatuan nasional Lebanon yang semakin kuat, serta melihat negaranya sebagai bangsa yang tangguh dan penuh harapan.
Mengenai tuduhan yang membuatnya dijatuhi hukuman seumur hidup, Abdallah tidak menyangkal bahwa ia membela legitimasi operasi perlawanan. Ia dikaitkan dengan Fraksi Revolusioner Bersenjata Lebanon (LARF), yang bertanggung jawab atas sejumlah operasi di Eropa pada 1980-an, termasuk pembunuhan atase militer AS dan diplomat Israel. Namun, ia menegaskan bahwa perlawanan bersenjata terhadap penjajahan adalah tindakan sah yang harus dihormati, bukan dikriminalisasi.
Abdallah juga mengungkap campur tangan aktif Amerika Serikat dalam memperpanjang penahanannya. Ia menyebut bagaimana tekanan dari Washington, termasuk surat dari Hillary Clinton yang berhasil membatalkan keputusan pengadilan Prancis yang telah memerintahkan pembebasannya. “Putusan pengadilan tidak penting bagi mereka. Saya harus tetap dipenjara,” kenangnya.
Kini, Abdallah menyerukan pentingnya membangun tentara nasional Lebanon yang kuat dan dipersenjatai penuh, agar mampu melindungi wilayah, martabat, dan rakyatnya. Ia menolak seruan pelucutan senjata kelompok perlawanan sebagai bentuk propaganda yang berbahaya. Menurutnya, jika tentara nasional telah diperkuat, maka semua pejuang tidak akan ragu untuk mendukungnya sepenuhnya.
Ia juga memperingatkan tentang ancaman sektarian dan campur tangan asing yang dapat memecah Lebanon, seperti yang terjadi di Suriah. Abdallah menekankan bahwa satu-satunya cara bertahan adalah melalui persatuan nasional dan perlawanan yang terorganisir.
Ketika ditanya apakah ia memiliki agenda politik pasca-pembebasan, Abdallah menjawab dengan rendah hati bahwa dirinya hanyalah seorang pejuang rakyat biasa. Ia akan berbicara dan mendengarkan seluruh elemen bangsa untuk memahami bagaimana ia bisa berkontribusi dalam membangun negara yang adil, melindungi rakyat, dan menghadapi musuh Zionis. Bagi Abdallah, perlawanan bukan masa lalu, ia adalah jalan menuju masa depan.
