Haaretz: Bunuh Diri Prajurit Israel Meningkat di Tengah Perang
POROS PERLAWANAN — Angkatan Bersenjata Israel dilaporkan menghadapi lonjakan kasus bunuh diri prajurit dalam beberapa bulan terakhir, seiring meningkatnya tekanan psikologis akibat konflik berkepanjangan di berbagai front. Tren ini menandai krisis kesehatan mental yang semakin dalam di internal Militer.
Data terbaru yang dilaporkan Haaretz pada Kamis 30 April menunjukkan sedikitnya sembilan kasus bunuh diri terjadi hanya dalam satu bulan terakhir, terdiri dari enam prajurit aktif dan tiga personel cadangan. Sejak awal tahun, jumlahnya mencapai sedikitnya 10 prajurit aktif, sementara dua anggota kepolisian juga dilaporkan meninggal dengan cara serupa.
Sepanjang 2025, tercatat 22 kasus bunuh diri di kalangan Militer, tertinggi dalam 15 tahun. Peningkatan ini menguat sejak eskalasi konflik pada Oktober 2023, yang memperluas operasi militer Israel dari Gaza ke Lebanon dan Suriah.
Laporan tersebut mengaitkan tren ini dengan gangguan stres pascatrauma yang meluas di kalangan prajurit. Intensitas operasi tempur dan durasi penugasan dinilai memperburuk kondisi psikologis personel di lapangan maupun setelah kembali dari medan perang.
Di sisi lain, kebijakan internal Militer justru dinilai tidak konsisten dalam menangani krisis. Program evaluasi psikologis wajib bagi pasukan cadangan sempat dihentikan pada Februari, sebelum sebagian dipulihkan setelah konflik dengan Iran dan peningkatan anggaran militer.
Meski demikian, sejumlah prajurit dilaporkan kembali dari penugasan tanpa mendapatkan pemeriksaan kesehatan mental. Sumber internal Militer mengakui kesulitan dalam menekan angka kasus, terutama pada personel yang tidak mencari bantuan.
Seorang pejabat senior Militer mengakui penanganan awal krisis tidak memadai. “Di awal perang kami mengira situasi terkendali, tetapi justru berkembang di luar perkiraan,” ujarnya.
Keluhan juga datang dari prajurit yang merasa tidak mendapat dukungan memadai setelah kembali dari medan tempur. Seorang tentara menyebut pengabaian terhadap kesehatan mental sebagai kebijakan yang tidak bertanggung jawab, mengingat besarnya anggaran militer yang dialokasikan untuk operasi tempur.
Seiring berlanjutnya konflik, tekanan operasional turut memperburuk situasi. Pasukan Israel masih terlibat di Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah, dengan kerugian yang terus terjadi. Sejak awal Maret 2026, sedikitnya 16 prajurit dilaporkan tewas dalam pertempuran dengan Hizbullah di Lebanon selatan.
Survei terbaru lembaga penyiaran publik Israel menunjukkan mayoritas warga menilai Militer gagal mencapai kemenangan sejak eskalasi konflik pada 2023. Temuan ini memperkuat gambaran tekanan ganda yang dihadapi Militer, baik di medan perang maupun di dalam institusi.
Kombinasi antara operasi berkepanjangan, kerugian militer, dan dukungan psikologis yang terbatas menempatkan isu kesehatan mental sebagai tantangan serius bagi keberlanjutan kesiapan tempur Israel.
