Harga Barang Meroket, Warga AS Mulai Rasakan Beban Tarif Trump
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump mulai menunjukkan dampak signifikan bagi konsumen Amerika. Seiring perusahaan-perusahaan besar menghadapi kenaikan biaya produksi akibat bea masuk yang lebih tinggi, mereka mulai mengambil langkah untuk menaikkan harga jual, mendorong laju inflasi dan membebani masyarakat.
Salah satu raksasa barang konsumen, Procter & Gamble, telah mengumumkan rencana untuk menaikkan harga sekitar seperempat produk mereka di pasar AS mulai minggu depan. Langkah ini dilakukan guna mengimbangi biaya tambahan yang dipicu oleh tarif baru. Kenaikan harga diperkirakan berada pada kisaran persentase satu digit menengah dan akan mencakup berbagai kategori kebutuhan sehari-hari.
Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh Procter & Gamble. Sejak tarif baru diumumkan pada awal April, sektor barang konsumsi termasuk makanan dan minuman mengalami pelemahan. Banyak produsen menghadapi tantangan dalam menjaga margin keuntungan, sementara konsumen, terutama pascapandemi, menjadi semakin sensitif terhadap kenaikan harga.
Nestlé, misalnya, menyatakan bahwa konsumen di Amerika Utara semakin menolak kenaikan harga produk bermerek saat berbelanja. Perusahaan seperti Walmart, Amazon, dan Best Buy pun diprediksi akan mulai mengalihkan beban tarif kepada pelanggan mereka.
Mantan CEO Medtronic dan peneliti di Harvard Business School, Bill George menilai bahwa masyarakat belum sepenuhnya merasakan dampak perang dagang ini. Namun, ia memperingatkan bahwa tekanan harga akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.
Data dari survei global Reuters menunjukkan bahwa antara pertengahan hingga akhir Juli, perusahaan-perusahaan besar memperkirakan kerugian gabungan akibat tarif mencapai \$7,1 hingga \$8,3 miliar. Produsen mobil telah menyerap biaya tambahan dalam jumlah besar, dan tekanan terus berlanjut.
Beberapa perusahaan sempat menghindari dampak langsung dengan menimbun stok sebelum tarif diberlakukan. Namun, para ekonom memperingatkan bahwa begitu persediaan tersebut habis, kemungkinan pada akhir 2025 atau awal 2026 kenaikan harga akan semakin terasa.
Meski beberapa produsen barang mewah seperti Swatch mampu mengalihkan dampak dengan menjual produknya di luar negeri, solusi semacam itu tidak tersedia bagi mayoritas kebutuhan pokok. Dengan tekanan inflasi yang terus meningkat, konsumen Amerika tampaknya akan segera menghadapi realitas pahit dari kebijakan tarif Trump di setiap kunjungan mereka ke kasir.
