Iran Tegaskan Selat Hormuz ‘Mustahil Dibuka’, Blokade AS-Israel Picu Krisis Global
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, ketegangan geopolitik kembali memuncak setelah Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan sesuatu yang “tidak mungkin” dalam kondisi saat ini. Pernyataan ini muncul di tengah pernyataan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel yang terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dinilai hanya bersifat semu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa jalur vital perdagangan global itu tidak akan dibuka selama tekanan militer dan blokade ekonomi masih berlangsung. Ia menyebut langkah Washington sebagai bentuk “penyanderaan ekonomi dunia”, seraya menyebut Rezim Zionis turut memperkeruh situasi dengan agresi yang terus berlanjut.
Di tengah eskalasi tersebut, IRGC mengambil langkah tegas dengan mencegat dua kapal asing yang mencoba melintasi Selat tanpa otorisasi. Tindakan ini menandai fase baru yang lebih konfrontatif dalam konflik maritim yang kini tidak lagi sekadar perang retorika, melainkan telah memasuki dimensi kontrol fisik atas jalur energi paling strategis di dunia.
Langkah Iran ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Sebelumnya, pasukan Amerika dilaporkan telah lebih dulu melakukan tindakan agresif di Samudera Hindia dengan menyerang dan menyita kapal yang terkait dengan Iran. Situasi ini memperlihatkan pola eskalasi timbal-balik yang semakin sulit dikendalikan, sekaligus memperkecil peluang diplomasi yang selama ini diklaim masih terbuka.
Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan disebut memainkan dua wajah sekaligus, mengancam tindakan militer di satu sisi, namun di sisi lain mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan pada Rabu 22 April bahwa strategi blokade telah menempatkan Iran dalam posisi tertekan, dengan kerugian ekonomi yang disebut mencapai ratusan juta Dolar per hari.
Namun di lapangan, narasi tersebut berbanding terbalik dengan realitas yang berkembang. Penutupan Selat Hormuz justru memicu efek domino terhadap ekonomi global. Jalur yang menjadi nadi distribusi minyak dunia itu kini berubah menjadi titik rawan konflik, mengganggu pasokan energi dan mendorong lonjakan harga bahan bakar di berbagai kawasan.
Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak, mengingat ketergantungan tinggi mereka terhadap pasokan energi dari Teluk. Gangguan distribusi tidak hanya menyebabkan kelangkaan bahan bakar, tetapi juga memukul sektor pertanian dan industri akibat tersendatnya suplai bahan baku. Sementara itu, negara-negara Barat meski relatif lebih tahan, tetap tidak luput dari tekanan ekonomi yang meningkat.
Di tengah krisis ini, ribuan pelaut dan kapal dilaporkan terjebak di kawasan Teluk akibat penutupan jalur pelayaran. Situasi tersebut mendorong seruan dari Badan Maritim Internasional agar semua pihak menahan diri dan segera membuka akses navigasi. Namun hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil konkret.
Sementara itu, jalur diplomasi tampak mengalami kebuntuan. Proposal baru dari Washington belum mampu menjembatani perbedaan mendasar antara kedua pihak. Upaya mediasi yang difasilitasi negara ketiga pun berujung stagnasi, mencerminkan betapa dalamnya jurang konflik yang kini terbentuk.
Dalam konteks ini, pernyataan Iran bukan sekadar sikap defensif, melainkan sinyal bahwa kontrol atas Selat Hormuz telah menjadi kartu strategis dalam menghadapi tekanan Barat. Dengan ketegangan yang terus meningkat, dunia kini menghadapi ancaman krisis yang lebih luas, tidak hanya pada stabilitas Kawasan, tetapi juga pada sistem ekonomi global yang bergantung pada kelancaran jalur energi tersebut.
