Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

‘Jembatan Udara’ Teheran–Sanaa; Penerbangan yang Picu Kekhawatiran Israel

POROS PERLAWANAN – Dimulainya kembali penerbangan antara Teheran dan Sanaa setelah bertahun-tahun terhenti telah memicu berbagai reaksi; mulai dari serangan Arab Saudi ke Bandara Sanaa, hingga laporan dan analisis dari media Israel yang membedah peristiwa ini dari sudut pandang yang berbeda.

Fars melaporkan, pada pagi hari 3 Juli silam, sebuah pesawat penumpang Iran mendarat di Bandara Sanaa, meskipun ada upaya dari pesawat tempur Saudi untuk mencegah pendaratan tersebut. Peristiwa ini digambarkan oleh Ansgharullah sebagai awal dari hancurnya blokade udara Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dengan konfirmasi dari pihak berwenang di Sanaa dan Ansharullah mengenai kelanjutan penerbangan Teheran-Sanaa, proposisi ini semakin terkukuhkan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada Senin pagi 13 Juli kemarin, sebuah pesawat dari maskapai Mahan mendarat di Bandara Sanaa. Pada saat yang sama, situs web “FlightRadar” melaporkan pergerakan pesawat Mahan lainnya menuju Sanaa.

Namun, beberapa jam kemudian, Arab Saudi menargetkan landasan pacu Bandara Sanaa; serangan yang menurut pihak Sanaa dilakukan dengan maksud untuk mencegah pendaratan pesawat berikutnya.

Kementerian Luar Negeri Yaman menggambarkan tindakan ini sebagai berakhirnya gencatan senjata dan deklarasi perang. Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Yahya Saree juga menekankan bahwa serangan ini mengakhiri periode deeskalasi dan tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Pemerintah Saudi dan lembaga yang disebut “Dewan Kepresidenan Yaman” sebelumnya telah mengeklaim bahwa pendaratan pesawat Iran di Sanaa dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan Yaman. Namun, pihak Sanaa menganggap penerbangan ini sebagai berakhirnya blokade udara oleh Pemerintah Saudi.

Di tengah situasi ini, yang paling menarik perhatian adalah reaksi media Israel, yang tidak menganggap penerbangan ini sekadar rute udara atau tindakan kemanusiaan. Mereka menilainya sebagai perkembangan dengan konsekuensi strategis dan geopolitik bagi keseimbangan kekuatan di Kawasan.

Yedioth Ahronoth: Berakhirnya Kebijakan yang Berlangsung Selama Satu Dekade

Surat kabar Yedioth Ahronoth tidak menggambarkan peristiwa ini hanya sebagai penerbangan sipil, melainkan sebagai tanda berakhirnya kebijakan yang secara praktis telah dijalankan selama hampir satu dekade dengan tujuan membatasi hubungan langsung antara Teheran dan Sanaa. Surat kabar ini percaya, sejak kesepakatan Iran-Arab Saudi yang dimediasi oleh Tiongkok pada tahun 2023, kebijakan regional Riyadh telah berubah.

Menurut Yedioth, Mohammed bin Salman membutuhkan stabilitas regional di atas segalanya demi keberhasilan proyek Visi 2030. Masalah inilah yang membuat Arab Saudi memilih jalur deeskalasi dengan Teheran alih-alih melanjutkan konfrontasi langsung.

Namun, para analis surat kabar ini percaya bahwa hasil dari perubahan ini, bertentangan dengan ekspektasi Riyadh, bukanlah terbatasnya pengaruh Iran, melainkan menciptakan ruang bagi Teheran untuk memperkuat posisinya di Yaman.

Yedioth memperingatkan bahwa pembukaan kembali jalur udara Teheran-Sanaa berdampak pada keamanan Israel, Laut Merah, dan Bab el-Mandeb.

Maariv: Kekhawatiran akan Terbentuknya Jembatan Udara

Surat kabar Maariv, dengan mengutip laporan Radio Militer Israel, menulis bahwa yang lebih penting daripada penerbangan itu sendiri adalah kemungkinan berubahnya rute ini menjadi “jembatan udara” permanen antara Teheran dan Sanaa.

Menurut Maariv, meskipun Ansharullah mengumumkan bahwa pesawat tersebut membawa korban luka dan pasien Yaman, beberapa pejabat yang berafiliasi dengan Pemerintah Yaman yang digulingkan mengeklaim bahwa rute ini mungkin akan digunakan di masa depan untuk mentransfer peralatan, teknologi canggih, atau penasihat militer.

Maariv menggambarkan tindakan ini sebagai kegagalan upaya Amerika dan sekutunya untuk mengendalikan rute laut.

Walla: ‘Koalisi Tak Tertulis’ Melawan Yaman

Situs berita Walla memiliki pandangan yang lebih politis mengenai masalah ini. Dalam laporan berjudul “Paradoks Houthi dan Koalisi Tak Tertulis Antara Israel dan Arab Saudi,” media ini menulis bahwa meskipun Riyadh dan Tel Aviv tidak memiliki pakta militer resmi melawan Yaman, keduanya berbagi kekhawatiran yang sama: mencegah peningkatan kekuatan Sanaa.

Walla mengakui bahwa setelah bertahun-tahun berperang tanpa mencapai tujuan, Saudi terpaksa mengambil strategi deeskalasi; pergeseran yang bukan karena perubahan pandangan terhadap Yaman, melainkan karena kegagalan opsi militer dan biaya yang sangat besar. Media ini juga menekankan bahwa setelah operasi “Badai al-Aqsa,” pandangan Israel terhadap Yaman telah berubah.

Menurut Walla, Tel Aviv tidak lagi menganggap Sanaa hanya sebagai aktor internal Yaman, melainkan mengakuinya sebagai salah satu aktor efektif dalam Poros Perlawanan yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi Laut Merah, Bab al-Mandeb, dan keamanan pelayaran.

Dari sudut pandang media ini, setiap operasi rudal Yaman, setiap keputusan mengenai pelayaran di Laut Merah, dan bahkan setiap penerbangan ke Bandara Sanaa, bukanlah sekadar tindakan militer atau logistik, melainkan membawa pesan politik mengenai posisi baru Yaman dalam perimbangan regional.

Mengapa Penerbangan Ini Penting bagi Israel?

Kesamaan dari laporan Yedioth Ahronoth, Maariv, dan Walla adalah bahwa semuanya mengevaluasi peristiwa ini lebih dari sekadar penerbangan biasa. Dalam analisis ini, kekhawatiran utamanya bukan sekadar pembukaan kembali jalur udara, melainkan hancurnya salah satu alat penekan terpenting terhadap Sanaa; alat yang selama beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari strategi penahanan Yaman.

Dari sudut pandang media-media ini, jika penerbangan langsung antara Teheran dan Sanaa menjadi tren yang berkelanjutan, sebagian dari perimbangan yang telah terbentuk selama beberapa tahun terakhir berdasarkan blokade udara dan laut akan membutuhkan definisi ulang.

Kesimpulan

Luasnya liputan pendaratan pesawat Iran di Sanaa di media-media Ibrani menunjukkan bahwa Tel Aviv tidak menganggap perkembangan ini hanya sebagai peristiwa udara belaka. Apa yang terlihat dalam laporan Yedioth Ahronoth, Maariv, dan Walla adalah gambaran kekhawatiran terhadap perubahan bertahap perimbangan regional; perubahan yang dari sudut pandang media-media ini, dapat memengaruhi keamanan Laut Merah, rute pelayaran strategis, dan posisi aktor regional.

Mungkin karena alasan inilah penerbangan Teheran–Sanaa dari sudut pandang Otoritas Sanaa dianggap sebagai simbol hancurnya blokade udara Yaman. Namun dalam narasi media-media Israel, penerbangan ini bukanlah sekadar rute udara, melainkan tanda dimulainya fase baru dalam perimbangan keamanan dan geopolitik Kawasan.