Kesepakatan Iran-AS Picu Kekhawatiran di Washington, Schumer: Setan Ada dalam Detailnya
POROS PERLAWANAN — Kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran di kalangan politik Amerika Serikat. Sejumlah tokoh konservatif menilai Presiden Donald Trump berpotensi memberikan konsesi terlalu besar kepada Teheran, sementara Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer mendesak Gedung Putih segera membuka rincian kesepakatan kepada publik dan Kongres.
Menurut IRNA pada Selasa 16 Juni, Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer mempertanyakan minimnya informasi yang dipublikasikan Gedung Putih soal kesepakatan yang diumumkan Trump.
“Hampir 24 jam telah berlalu sejak Trump mengumumkan adanya kesepakatan dengan Iran, tetapi kami masih belum mengetahui rinciannya,” kata Schumer dalam pidato di Senat.
Ia menegaskan bahwa rincian kesepakatan merupakan faktor penentu dalam menilai hasil negosiasi yang menyangkut kepentingan strategis Amerika Serikat.
“Dalam negosiasi berisiko tinggi seperti ini, setan ada dalam detailnya. Namun Trump bahkan belum memublikasikan teks dari apa yang disebutnya sebagai kesepakatan atau nota kesepahaman dengan Iran,” ujarnya.
Schumer mendesak Pemerintah segera memberikan penjelasan kepada Kongres dan masyarakat Amerika mengenai isi kesepakatan tersebut.
Sementara itu, CBS News melaporkan para pejabat senior Amerika sebelumnya menyatakan bahwa teks nota kesepahaman antara Washington dan Teheran kemungkinan akan dipublikasikan dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Selain dari kalangan Demokrat, kritik juga muncul dari sejumlah tokoh konservatif yang selama ini mendukung kebijakan keras terhadap Iran.
Senator Partai Republik, Lindsey Graham mengaku khawatir bahwa versi Iran mengenai rincian kesepakatan tidak akan sepenuhnya sesuai dengan penjelasan yang disampaikan Pemerintahan Trump.
Graham juga menegaskan bahwa Kongres seharusnya memiliki kesempatan untuk memberikan suara terhadap kesepakatan tersebut.
Kritik serupa disampaikan pembawa acara Fox News, Mark Levin, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan konfrontatif terhadap Iran. Levin berulang kali mempertanyakan alasan Pemerintah belum memublikasikan teks kesepakatan.
Mantan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo juga menyoroti perkembangan tersebut. Dalam unggahannya di platform X, Pompeo menyatakan harapannya agar setiap kesepakatan yang dicapai tetap menjaga kepentingan nasional Amerika Serikat.
Di sisi lain, mantan Penasihat Presiden George W. Bush, Marc Thiessen memperingatkan bahwa kerangka kesepakatan yang sedang dibentuk Trump memiliki kemiripan dengan pendekatan yang pernah ditempuh Pemerintahan Barack Obama terhadap Iran.
CNN juga melaporkan bahwa dewan redaksi media konservatif National Review menilai sejumlah indikasi awal dalam kesepakatan tersebut mengecewakan, terutama kemungkinan tetap diizinkannya pengayaan uranium untuk tujuan sipil serta tidak adanya pembatasan yang jelas terhadap program rudal balistik Iran.
Hingga kini, rincian lengkap nota kesepahaman Iran-Amerika Serikat belum dipublikasikan. Sejumlah laporan menyebut dokumen tersebut akan diumumkan setelah pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran telah rampung. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif kemudian mengumumkan bahwa dokumen tersebut dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni mendatang di Swiss.
